Friday, 24 December 2021

Tertampar

Mungkin terdengar aneh.

Pada umumnya, seseorang tidak akan merasa nyaman apabila ada orang lain yang tidak sependapat pemikirannya bahkan cenderung menentang. Begitu pula denganku. Apapun alasannya, secara naluriah orang akan berusaha mempertahankan pendapatnya, entah dengan langsung mengutarakan, hanya terdiam karena tidak berani mengungkapkan, atau bibirnya tak sanggup berkata apa-apa hingga tangannya melayangkan amarah. Suka tidak suka, dalam kehidupan sehari-hari pun hal ini tidak bisa dihindari. Tidak perlu jauh-jauh, ibu dan anak yang jelas-jelas sedarah saja dapat berbeda pendapat, apalagi yang lain?

Aku termasuk di antara sekian orang yang tak suka berdebat atau mempermasalahkan perbedaan pendapat, justru karena inipun aku dianggap labil seperti tak berpendirian teguh. Ah bukan, aku hanya bersifat fleksibel dan tidak kaku terhadap masalah apapun. Jelas alasannya aku tak suka merasa tertampar dengan ucapan orang lain.

Lain hal nya dengan buku. Entah bagaimana caranya, beberapa buku dapat menghipnotisku sehingga seolah ia menamparku melalui serangkaian kata. Hebatnya, bukannya berhenti membaca karena tak suka, aku pun melanjutkan membaca lembar demi lembar buku yang menamparku. Memang tidak semua, sih. Umumnya adalah buku-buku bernuansa self development. Beberapa orang mungkin bilang akan membosankan, tetapi tidak denganku. Rasanya, aku lebih baik dinasihati buku daripada mendengar ucapan orang secara langsung. Ah tidak, aku bukan anak pintar yang kutu buku, kok. Aku pun juga pemilih dalam memilih bacaan. Adakah yang lain yang merasakan hal yang sama sepertiku?

(Masih) Melanjutkan Perjalanan

24 Desember 2021, 

Genap seminggu lagi ternyata kita akan memulai perjalanan di tahun baru, yaitu tahun 2022. Well, ternyata utang atas #30haribercerita ku belum tuntas :D 

Tidak apa apa. Aku hanya terlalu banyak alasan untuk memulai menulis kembali. Aku banyak menunda sesuatu hal yang semestinya bisa langsung dituntaskan untuk segera selesai. Aku hanya sok sibuk, tidak mau mengorbankan waktu untuk mengurangi istirahatku agar semua ini tuntas. Aku hanya memaksakan diri untuk menciptakan waktu dan mood yang sempurna untuk memulai, hingga pada akhirnya saat yang tepat tersebut tak kunjung tiba. Aku hanya tak sabar menghadapi perangkat laptopku yang mulai lemot. Apalagi? Kurang lebih aku membiarkan semesta berlalu tanpa aku berusaha menyelesaikannya. Bukankah tulisan yang bagus adalah yang ditulis dari hati dan tuntas diselesaikan?

Kembali lagi, aku akan melanjutkan perjalanan. Tidak lagi berjalan, aku akan berlari mengejar ketertinggalanku. Yuk, tinggal menghitung hari!

Sunday, 25 July 2021

Dunia Maya

    Hari demi hari kulalui, tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Akan tetapi, aku merasa hidupku "begini-begini" saja tanpa ada perubahan yang berarti. Hari minggu aku bergegas menyambut senin. Ketika senin tiba, tidak terasa sudah hari rabu, begitupun berlalu tiba-tiba sudah hari sabtu. Seterusnya begitu. Jelas-jelas bukan salah waktu. Toh, setiap orang memiliki waktu 24 jam yang sama, 'kan?

    Pikiranku kembali terkilas balik ke beberapa pekan lalu. Sudah benar kok, aku menjalankan tugas dan pekerjaanku relatif baik. Apalagi ya? Aku juga sudah jauh lebih care dengan kesehatanku, baik dari segi fisik maupun mental, rasanya tak perlu ada yang dikhawatirkan (kecuali kesehatan dompetku). Nyatanya, hubunganku dengan sekitarku tak mengalami masalah yang berarti. Semua nampak lurus-lurus saja, namun masih terasa mengganjal.

    Coba apalagi yang kulalui, dari hari minggu hingga bertemu minggu lagi? Tak ada sesuatu yang spesial (justru itu dong, dirimu sendiri yang membuatnya spesial...). Ah, sejenak aku perhatikan beberapa minggu terakhir aku lebih intens memainkan gawai atau gadgetku. Hmm, menarik. Bisa jadi sih. Mungkin jiwaku masih tertinggal di dunia maya dan belum kembali ke dunia nyata? Lantas, apa yang harus ku lakukan untuk membuatnya kembali?

    Perangkap dunia maya, tak ayal seperti dua sisi mata pisau. Tentu saja banyak hal baru yang kuketahui bermula dari internet. Tidak hanya itu, aku pun dapat mengetahui kabar teman yang sekalipun aku jarang bertemu dengannya melalui media sosial. Lagi-lagi, di sisi lain jika kita tak berbijak hati dan jari memanfaatkan internet, bukan hal yang tak mungkin bila kita terlena membuang waktu berlamun dalam dunia maya. Begitulah, seperti aku saat ini. Sekali dua kali nampak terasa menyenangkan dapat melepas penat. Selanjutnya, bisa menjadi berbanding terbalik semisal kita menjadi mudah iri hati melihat kebahagiaan orang lain dalam sebatas media sosial. 

        Jadi, sudah tau solusinya, kan?

Makna Kesendirian

Aku berjalan telah sejauh ini, masih terasa berat. Bukan apa-apa, rasanya bekal perjalananku tak terlalu banyak hingga aku berat melangkahkan kaki. Pun juga tidak terlalu sedikit dikatakan sebagai bekal sampai aku amat ringan untuk melangkah. Beberapa kilometer ku tempuh hingga aku memutuskan untuk menepi sejenak.

Fiuhh.. Ku buka tas untuk meraih bekal. Barangkali di perjalanan berikutnya aku akan kehausan atau kelaparan. Sempat ku berpikir sesaat, sampai akhirnya aku memilih menyimpan sisa bekalku. Sebenarnya, dahagaku tak tertahankan tetapi aku takut persediaan bekalku tak cukup dan aku tak menemukan air segar kembali. Kembali aku bersiap merapikan perbekalanku untuk melanjutkan perjalanan.

Kini aku menyusuri jalan yang sebelumnya tak pernah kulalui. Untungnya, matahari tak terlalu terik sehingga aku tak kepanasan. Sesekali hembusan angin turut menerpa menemaniku. Ku tengok pula di sekelilingku.

Aku memang berjalan seorang diri, tetapi tak benar-benar sendiri.

Di sekitarku yang banyak orang yang tak ku kenal, tentu mereka melangkah dengan masalah yang dipikulnya sendiri. Mungkin, yang saat ini sama sekali tidak ku kenal, akan menjadi seseorang yang aku kenal dan akan akrab denganku? Bisa jadi.

Percayalah. Fokus dalam kesendirian tak akan membuatmu kesepian. Namun ingatlah untuk meminta pertolongan bila terjadi sesuatu hal yang tidak kau inginkan dan belum mampu kau atasi.

Saturday, 8 May 2021

Tak Tersampaikan

 "Ma, Pa.. Maafkan aku. Aku tau kalian bangga dengan diriku. Tapi tidak dengan diriku. Banyak hal yang ingin kuceritakan pada kalian.. Lagi-lagi, kupikir tak pantas aku berkeluh kesah di hadapan kalian yang selama ini telah memperjuangkan hidupku."

"Audrey, sudah berapa lama kita bersama sebagai teman? Tak terasa ya, sudah 5 tahun kita saling mengenal? Kamu tau kan jika aku tak memiliki banyak teman? Maafkan aku juga ya, jujur aku merasa tidak nyaman jika teman-teman yang lain lebih akrab denganmu daripada denganku. Aku muak. Aku semakin kesepian di antara keramaian."

"Jean, perjumpaan kita hanya sekejap, tetapi meninggalkan kenangan yang tak mungkin semudah itu kulupakan. Maaf, jika aku belum merelakan dirimu bersanding dengan yang lain. Aku tau di saat kita yang tak mungkin bersatu kembali teramat egois. Mungkin ini kah yang dinamakan cinta, atau justru obsesi semata? Karena aku tak tau bagaimana caranya untuk membencimu."

"Mama, Papa, teman-temanku terkhusus Audrey dan Jean, kutinggalkan surat terakhirku untuk kalian. Aku sedih. Aku putus asa. Aku tak tau harus memulai bercerita dari mana. Kalian mengetahui perasaanku saat ini sudah lebih dari cukup bagiku. Maaf, aku harus pergi selama-lamanya. Semoga kalian bahagia tanpaku."

*

Secarik kertas itu menjadi saksi bisu. Irena berniat mengakhiri hidupnya. Malam itu juga. Huft, inilah saatnya. Ia menguatkan diri dan menyeka air matanya.

"Tunggu! Apa-apaan ini?", gumam Irena.

Irena terbangun dan meraih laci meja belajarnya. Rasanya ia masih ingat bahwa ia menyimpan barang itu di laci mejanya. Ia kembali merogoh, memastikan barang yang ia cari ditemukan. Ah, ini dia. Akhirnya ketemu.

Kamar Irena semakin terang setelah ia menyalakan korek api gas. Betul, itulah barang tersembunyi yang ia cari di laci mejanya. Kecil mungil, api pun semakin menyala-nyala seakan menertawakan Irena. Tetapi itu tak membuat Irena gentar, kemudian ia meraih sepucuk surat yang ia tulis sebelumnya.

"Baik. Inilah yang semestinya ku lakukan.", ucap Irena memantapkan hati.

Nyala api melahap perlahan surat yang telah dituliskannya, lama-lama menjadi abu. Biarlah isi hatinya tak tersampaikan. Karena surat itu takkan pernah sampai pada tujuannya, hanya kembali ke pemiliknya.

Sunday, 25 April 2021

Sudah, belum?

Sudah kubilang, kamu bilang lelah, memang kamu sudah berjuang belum?

Jika sudah berjuang, sejauh mana perjuanganmu?

Kamu bilang kamu tak bisa mendapatkan apapun seperti orang-orang di sekitarmu, memang kamu sudah bersyukur belum?

Kamu bilang uangmu selalu pas-pasan menghidupi kebutuhanmu, memang kamu sudah berusaha untuk berhemat belum? Sudah mencari cara lain untuk menambah penghasilan belum?

Kamu bilang, kamu tak seberuntung teman sebayamu yang telah memiliki pasangan hidup, memang kamu sudah memantaskan diri belum?

Pun kamu bilang bosan dengan lingkunganmu yang itu-itu saja dan monoton. memangnya kamu sudah mencoba membangun networking dan memberikan dampak positif untuk sekitarmu belum?

Tak hanya itu, kamu bilang mereka punya privillege sehingga dengan mudah meraih suksesny, memangnya kamu sudah pantas menerima privillege yang menurutmu bisa kamu banggakan itu belum?

Akan banyak tanya yang hanya kamu ketahui jawabannya, meskipun pada akhirnya tidak semua pertanyaan akan ada jawabnya dan tidak semua jawaban perlu dipertanyakan.


-Catatan pengingatku menginjak di hari ke-13 Ramadhan, semoga senantiasa diberikan nikmat sehat wal 'afiat untuk beribadah dan dijauhkan dari kefuturan-

Sunday, 18 April 2021

Menyederhanakan Rasa

    Pernahkah suatu hari kamu merasa kesal sekesal-kesalnya kepada temanmu atau bahkan orang tuamu tanpa sebab yang jelas? Barangkali ada masanya kita pernah merasakan hal ini. Mari kita samakan persepsi terlebih dulu. Lebih tepatnya, merasakan emosi dan sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Saat kita masih bayi, orang tua kita terkadang kebingungan menerjemahkan isak tangis kita, karena di masa-masa itu bayi berbahasa komunikasi utamanya ialah dengan tangis dan/atau tawa. Perlahan orang tua terbiasa, akhirnya mulai memahami bahasa anaknya, baik itu tangis karena lapar, mengantuk, dan sebagainya.

    Kita pun setelah memasuki usia sekolah, bahkan setelah lulus sekolah, tidak akan terlepas dari memahami emosi diri sendiri dan orang lain, yang akhirnya jika sering dilatih akan menumbuhkan rasa empati. Lantas, sebenarnya apakah ada yang namanya emosi tanpa sebab? Jika tidak ada, mengapa ada yang bisa tiba-tiba menangis tanpa mengetahui tanpa sebab, atau mudah tertawa terbahak-bahak karena hal sederhana?

    Robert Plutchik, menjelaskan bahwa klasifikasinya terhadap emosi manusia yang disebut Roda Emosi Plutchik (Plutchik's Wheel of Emotions) terdapat delapan emosi dasar yang masing-masing dapat dibagi tiga menurut intensitasnya seperti gambar berikut:



         Menurutku, dengan kita mengetahui akar dari emosi perasaan, maka akan mudah bagi kita untuk menyikapinya dan dapat terfokus untuk mengantisipasi bila sedang merasakan emosi negatif. Misalkan, dalam beberapa hari kira merasa takut tanpa sebab, setelah ditelusuri asal mulanya, ternyata sumber ketakutan kita adalah insecure atau merasa rendah diri, ketika ditarik lagi sebabnya ternyata adalah merasa malu dengan pencapaian diri yang tidak sebanding dengan teman sebaya. Dalam fasenya, lebih dikenal dengan Quarter Life Crisis. Bagaimana, sudahkah kamu temukan dan sederhanakan emosi yang kamu rasakan hari ini?

Saturday, 3 April 2021

Bahagia tak Berbatas

    Ingatan manusia kadang terbatas, namun kenangan yang dilewati tak berbatas. Seringkali manusia mengasosiasikan suatu hal (entah suasana, hari, bahkan benda tertentu) dengan sebuah kenangan, tak terkecuali diriku sendiri. Semisal aku di jalan melewati SD ku, meskipun gedungnya sudah berubah pikiranku tetap berkelana menyusuri saat-saat aku bermain dengan teman-temanku selepas belajar di kelas, tanpa khawatir akan menjadi apa aku di masa 10 tahun yang akan datang.

    Dulu, aku senang sekali menuliskan bagaimana hari-hari yang kujalani dalam secarik kertas. Selelah apapun, selalu kuluangkan waktu untuk menulis. Bahkan, saat aku kelas 4 SD aku bertukar buku harian dengan sahabatku. Sesederhana itu aku bisa merasakan bahagianya dapat berbagi dengan temanku dengan menulis. Tentu saja, sahabatku ini sudah jauh lebih hebat dariku. Bakat menulisnya selalu ia asah dengan mengikuti berbagai lomba hingga kabar terakhir ku dengar ia mendapat nominasi sebagai puisi terfavorit di suatu lomba. Hanya mendengar kabarnya saja sudah membuatku bahagia. Bila ditarik kembali, menurutmu apakah bahagiaku sama dengan belasan tahun lalu?

    Apa makna bahagiamu? Memiliki banyak uang dan teman? Bergelimang harta? Bekerja sesuai passion tanpa lelah dikejar deadline? Melanjutkan studi hingga ke luar negeri? Menikah dengan orang yang sangat dicintai? Itu semua kembali pada hati. Bahagiaku mungkin bisa sama, bisa juga berbeda denganmu. Pada akhirnya, sejauh apapun yang kita cari, ketenangan jiwa lah yang menuntun perjalanan panjang kita. Bukan tentang apa yang membuat kita bahagia, tetapi apa yang bisa kita ciptakan untuk mencapai rasa bahagia. Yuk, kita ciptakan bahagia kita tanpa dibatasi oleh stigma apapun itu!

Wednesday, 17 March 2021

My Special One

Dulu, saat aku masih di bangku sekolah dasar, aku mengagumi salah satu pelatih sepak bola yang berjuluk The Special One, Jose Mourinho. Saat itu ia masih melatih klub Chelsea FC. Kalau ditanya, apa 'sih yang membuatku kagum? Mungkin karena aksinya yang nyetrik dan terkenal arogan (?) Atau juga karena ia melatih klub warna kesukaanku alias The Blues? Haha entah, aku tidak ingat persis. Kali ini bukan beliau yang akan kuceritakan, melainkan adik laki-lakiku satu-satunya.

He's my special one. Nama adikku ini Abdul Ma'ruf. Nama depannya sama seperti ayahku, sedangkan nama belakangnya terinspirasi dari pemain sepak bola Indonesia terkenal di kala itu, Anang Ma'ruf. Tak hanya itu, namanya juga terinspirasi dari bahasa Arab "Amar Ma'ruf Nahi Munkar", tak lain artinya ialah menegakkan kebenaran dan menjauhi kemunkaran. Dia tak terpaut jauh usianya jauh denganku, hanya selisih 2 tahun. Kami amat dekat, kecuali hingga 3 tahun terakhir aku harus merantau, sedari dini hingga sekarang kami tak pernah berbincang bersama...

Bukan karena tak ingin, keadaanlah yang memaksa aku harus siap dalam segala hal. Kehadiran adik kesayanganku amat dinantikan oleh keluargaku, namun kami harus siap menerima bahwa di usia 2 tahun ia menyandang autisme sehingga ia tidak bisa berkomunikasi dan perkembangannya lambat untuk ukuran anak seusianya. Penyebabnya diduga setelah imunisasi meningitis, kadar air raksanya kelebihan sehingga otaknya mengalami kerusakan. Bersyukurnya, nyawanya masih tertolong. Aku memang tak sepenuhnya mengerti, hingga dulu aku ingin jadi dokter, menjadi psikolog, agar tidak ada lagi orang merasakan hal yang sama sepertiku. Bagi masyarakat awam, kehadiran penyandang autisme terbilang sulit diterima di tengah masyarakat. Tentu saja anak autis memiliki perasaan yang sama seperti manusia pada umumnya, hanya mereka kesulitan dalam mengkomunikasikannya.

Pernah suatu ketika aku kesal dengan adikku, tak sengaja aku melukainya hingga ia berdarah. Sontak aku kaget, langsung kubersihkan darah yang mengucur seraya aku meminta maaf. Tiba-tiba, tak kusangka ia langsung memelukku sambil berkata "Maafkan aku". Entah dimana ia menirukannya. AKu langsung memeluknya balik dan berjanji takkan mengulangi kembali kejadian yang sama. Sebegitu berharganya ia bagiku, bagaimana dengan orang tuaku? Tentu mereka yang lebih merasakan bagaimana berjuangnya membesarkan anak berkebutuhan khusus. 

Rasanya, bukan dia yang membutuhkan aku, tetapi justru aku yang membutuhkan kehadiran dirinya. Dengan dirinya, aku semakin sadar betapa tingginya egoku dan bersamanya aku menjadi yakin bahwa kesabaran memang tak ada batasnya, justru kita lah yang membuat batas itu sendiri. Andaikan ia dapat berkomunikasi seperti biasa, mungkin adikku sudah pusing mendengarkan curhatan kakaknya ini, ya? Hahah. Dik, semoga kehadiranmu senantiasa menjadi penyejuk keluarga kita dan menjadi ladang amal untuk kedua orang tua kita yaa :)

Tuesday, 23 February 2021

Teruslah Bergerak

    Belum lama ini, aku mengecek aplikasi HP ku bernama Samsung Health, aplikasi untuk memantau kesehatan penggunanya secara umum, seperti jumlah asupan kalori, jumlah langkah kaki per hari, kualitas tidur, dan lain-lain serta terintegrasi dengan perangkat lain seperti Samsung Smart Watch. Aplikasi ini amat membantu untuk mengetahui gambaran kesehatan penggunanya, tetapi sepertinya tidak denganku karena aku termasuk orang yang jarang berolahraga sehingga merasa belum dapat memanfaatkan aplikasinya secara optimal :D
    Berbekal rasa penasaran, aku isi identitasku, mulai ku input asupan makananku setiap hari, dan aku perhatikan langkah kakiku dalam sehari. Bukan main, ternyata aku termasuk orang yang (kurang) aktif. Hmm. Dari active time target selama 60 menit, paling banyak hanya ku sanggupi 25 menit. Memang sih, aplikasi tidak selamanya memantau pergerakanku karena aku terkadang lepas dari gadget-ku. Akan tetapi, jika dipikir ada benarnya juga, belum lagi saat hari libur aku lebih sedikit melakukan pergerakan dan berefek pada pinggangku yang pegal. Tentu ini hal yang tidak patut ditiru, yaa!
    Satu di antara 10 Muwashofat (sifat-sifat muslim ideal) ialah Qowiyyul Jismi (memiliki kekuatan jasmani). Rasulullah SAW pun pernah bersabda yang artinya "Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah." (H.R. Muslim). Tentu berarti bila kurang bergerak, maka akan berdampak pada kesehatan jasmani yang menurun, 'kan? Aku juga teringat dengan tagline yang digaungkan di LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Salam UI yaitu "Teruslah bergerak, karena diam itu menyakitkan." Pada hakikatnya juga apabila kita telah selesai dalam satu urusan, sebaiknya segera bergerak menyelesaikan yang berikutnya. Sebegitu pentingnya tentang bergerak yaa, teman-teman. Yuk terus bergerak!

Sunday, 21 February 2021

Tanpa Pamrih

"Dek Ayu, jangan lupa angkat jemuran. Nanti keujanan"

"Iya, Bu..."

.

"Dek, bikinin Bapakmu kopi, sana. Udah jam segini"

.

"Deek, kok belum dibuatin kopinya, sih?"

Ayu bergegas keluar kamar menuju dapur karena mendengar teriakan ibunya. Sesaat setelah tiba di dapur, ia melihat ibunya telah berdiri di dapur seraya mengadukkan kopi di cangkir. 

"Lho, Ibu udah buat kopinya? Tadi bukannya Ibu nyuruh adek?", tanya Ayu.

"Iya, Dek. Abis nunggu kamu kelamaan, sih."

Ayu pun lantas meninggalkan dapur sambil menggerutu.

Lagi-lagi seperti itu. Bukan pertama kalinya Ayu kesal dengan sikap ibunya. Memang sebagai anak sudah tugasnya menjalankan perintah orang tua. Tetapi, yang membuatnya kesal ialah sikap kedua orang tuanya yang perfeksionis dan terkadang meminta tolong tanpa melihat situasi dan kondisi anaknya sendiri. Ayu bukan orang yang mengambil pusing perkara hal yang tidak disukainya walaupun seringkali pula ia marah-marah sendiri seusai disuruh ibunya.

"Bu, adek pamit berangkat yaa, Nindi udah nunggu di stasiun.", ujar Ayu sambil mencium tangan ibunya.

"Iya, hati-hati, Dek. Ingat jangan pulang malam-malam.", pesan ibu.

"Siap, Bu.", ucap Ayu seraya menghampiri ojek online yang telah menunggu di depan halaman rumahnya.

Ayu tiba di pintu masuk stasiun, setelah itu ia berlari menuju peron menghampiri Nindi.

"Nindi! Duuh sorry yaa gw telat.",sapa Ayu menepuk bahu Nindi.

"Gapapa, kok. Baru juga sebentar. Yuk, udah dateng tuh KRL Jakarta Kota.", ujar Nindi.

Mereka berjalan mendekati kereta yang perlahan berhenti. Pintu kereta terbuka, mereka melangkahkan kaki dengan hati-hati. Kemudian, mereka menyusuri gerbong dan menemukan kursi penumpang yang kosong.

"Wah akhirnya dapet juga tempat duduk jam segini. Biasanya rame nih, Nin."

"Iya juga yaa, Yu. Ini masih jam 15.00 juga sih. Btw, tadi kenapa kok mukanya bete gitu pas nyamperin gw di stasiun?", tanya Nindi.

"Masa, sih? Jelas-jelas gw pake masker."

"Heheh, nada bicara gak bisa ditutupin kali. Yaudah gapapa kalo belum mau cerita, yu."

Sebetulnya, Ayu bukan tipe anak yang mudah terbuka untuk bercerita pada orang lain. Baginya, ia lebih nyaman seperti itu dibandingkan harus membuka topeng di hadapan temannya, kecuali Nindi, sahabat karibnya.

"Jadi gini, Nin. Biasa lah, gw agak ga sreg aja kalo nyokap nyuruh-nyuruh. Gw bukan pemalas kok, cuma nunggu mood enak aja buat ngerjainnya. Tadi nyokap minta tolong gw pas lagi siap-siap, udah keburu-buru eh ternyata udah dikerjain sendiri."

"Nah, sebelumnya lu lagi ngapain, Yu?"

"Main HP sambil rebahan aja, sih..."

"Weee jelas lah nyokap lu gak sabaran! Bantuin dulu, baru main HP. Udah gitu pasti lu tadi siap-siapnya mepet waktu janjian, kan?"

"Hehe emang mepet, sih. Tapi gw 'kan sadar diri juga kalo main HP gak sampe ber jam-jam."

"Hahah, duh sama banget kayak gw sebenernya. Tapi gini, ketimbang lu merasa ga suka disuruh-suruh, gimana selanjutnya lu coba langsung kerjain, atau minimal bilang kalo lagi ada hal lain yang dikerjain dulu, jadi tugas dari nyokap lu menyusul dikerjain."

"Bisa juga, sih. Tapi, gw keburu males jelasin duluan. Oke kalo soal ini gw salah karena nunda kerjaan sambil main HP, masalahnya gw lebih gak sreg lagi kalo gw diingetin suatu hal yang menurut gw sifatnya gak usah diingetin. Misalkan, diingetin minum obat lah, beresin kamar lah, 'kan gw berasa jadi kayak bocah. Gw udah umur 20 tahun, kali."

"Gimana pun kita tetap dianggap sebagai anak-anak di mata orang tua kita. Daripada ngegerutu, gimana kalo berikutnya lu ucapin makasih karena udah diingetin? Gak semua orang tua care lho, banyak juga yang cuek, bahkan udah gak punya orang tua..."

Degh. Benar juga kata Nindi. Ayu bergumam sendiri.

"Ayu? Masih dengerin gw 'kan?"

"Eh? Iya kok, gw dengerin nih."

"Contoh yang lebih kompleks lagi nih ya. Misalkan lu udah berkeluarga. Suami lu sibuk banget tapi masih nyempetin diri buat bantuin bebenah rumah. Nah, lu jangan tersinggung karena lu sebagai ibu rumah tangga gak sempat bebenah rumah gara-gara sibuk ngurus anak. Tapi, lu jangan keenakan juga dan gak ngurus rumah mentang-mentang dia bantuin bebenah. Rumah tangga bukan hanya formalitas suami kerja, istri ngurus anak dan rumah, melainkan juga saling bahu membahu melengkapi bahkan tanpa pamrih. Bukan juga soal siapa yang paling hebat di rumah. Kebayang gak kalo suami merasa hebat karena sepulang kerja bisa masak? Trus kebayang juga gak kalo istri merasa lebih hebat daripada suami karena bekerja dan gajinya lebih besar daripada suaminya? Pasti mudah banget deh, keucap kata cerai."

"Duh ngeri dengernya, jangan sampe deh kita kayak gitu.", ucap Ayu sembari mengangguk setuju pada Nindi.

Pengumuman di KRL tak lama berbunyi. Masinis memberitahukan bahwa kereta akan tiba di Stasiun Juanda.

"Lho, Nin? Kok udah mau sampe Juanda? Kita 'kan mau turun di Cikini?"

"Walah, iyaya, Yu. Gw gak merhatiin dari jendela juga soalnya."

"Abisnya lu panjang banget sih, Nin. Gw ceritanya cuma bentar, lu ngomongnya kayak dosen ngajar 3 SKS. Jadi kebablasan deh kita."

"Hahah jangan gitu dong, Yu. Janji jangan ngambek yaa, gw traktir jajan sebelum sampe Salemba deh!"

"Becanda, Nin. Hahah, eh kalo traktirannya beneran mau banget nih gw."

"Dasar kesempatan lu, hahah. Yaudah nih, Yu. Pintu keretanya sebentar lagi kebuka."

Mereka melangkahkan kaki keluar. Sementara itu, Ayu lebih tenang setelah bercerita dengan Nindi.

Saturday, 6 February 2021

Foto Lima Tahun Lalu

        Mundur lima tahun dari sekarang, berarti tepat tahun 2016. Kembali ku buka galeri album memory card lamaku, sayangnya tidak ada yang tersisa karena backup terakhir hanya tersimpan foto sejak 2018. Teringat aku dengan jejak digital pada akun instagram, akhirnya kutemukan foto penuh kenangan lima tahun yang lalu. Tentu saja, ini adalah foto wisudaku setelah menempuh pendidikan D3 di kampus perjuangan.

   

    Foto ini mewakili kebahagiaanku dan keluargaku. Kekhawatiranku akan masa depan tertutupi oleh euforia saat itu dan ketika itu aku sudah diterima bekerja selama seminggu. Ada satu moment membuatku sadar saat ibu menanyakanku, "Mbak, kok namanya gak dipanggil dan muncul di layar?"Aku rasa ada balutan kecewa karena putrinya tak seperti wisudawan lainnya. Sederhana kujelaskan bahwa wisudawan terpilih tersebut ialah yang memiliki IPK cumlaude, mendapatkan IPK diatas 3 saja sudah lebih dari cukup. Ibuku tersenyum sembari mengajakku berfoto. Hujan deras kala itu tak menyurutkan kebahagiaan kami.

    Dibalik toga yang dapat kukenakan, ada doa dan harapan kedua orangtuaku yang tersemat di setiap malam. Memang sih, aku tak seperti teman-temanku yang harus membagi waktu antara rapat organisasi, mencari sambilan kerja, menahan rindu karena hidup di rantauan, atau rela begadang demi belajar sebelum ujian. Bahkan, aku sempat merasa salah jurusan karena sempat tidak merasa nyaman dan mudah mengerti tentang mata kuliahnya. Tetapi jika sudah terlanjur basah, lebih baik sekalian berenang 'kan?

   Jawabannya memang tidak kutemui saat masih berkuliah, namun akhirnya sudah kutemukan dua tahun yang lalu. Ilmu yang kudapat selama kuliah sangat berguna sampai saat ini dan itu hanya sebagian kecil yang kuhadapi di dunia kerja. Tentu berarti aku tak bisa berpuas diri dan harus tetap belajar. Semoga, berbekal dari kenangan foto ini aku mampu menjaga keberkahan ilmu dan rezeki yang ku dapat. Ibu, Bapak, terima kasih telah mendidikku hingga saat ini.



Buku yang Mengubahku

Bila diberi pertanyaan "Buku apakah yang dapat mengubahmu?", maka aku perlu waktu cukup lama untuk memikirkannya Buku paspor? Buku nikah? Eits, tentu bukan itu jawabannya... Sebagai penikmat literasi, aku memiliki beberapa pilihan bacaan yang kugemari. Aku menyukai komik karena memiliki cerita bergambar, aku pun menikmati novel -dengan genre tertentu- sebab aku dapat berimajinasi dalam setiap baris cerita, serta tak ketinggalan pula aku pun menikmati buku biografi tokoh terkenal, karena aku tak jarang aku mendapat inspirasi setelah membaca biografi. Sudah tertebak 'kan, buku yang kusukai? Betul, tak jauh-jauh dari buku non fiksi.

Namun, dalam dua tahun terakhir ada satu buku yang membuatku berdecak kagum dengan penulisnya. Bukan Tere Liye, bukan pula J.K Rowlings, tetapi Kurniawan Gunadi. Mas Gun, sapaannya, merupakan lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB yang aktif menulis pada akun media sosialnya, seperti Tumblr dan Instagram. Bukunya yang berjudul Hujan Matahari, membuatku tertegun menggelengkan kepala. Sebenarnya, tak hanya itu saja. Karyanya yang berjudul Bertumbuh dan Menentukan Arah juga meninggalkan kesan mendalam. Gaya penulisannya pun sederhana dan dikuatkan dengan pemilihan diksi yang tepat. Mas Gun selalu mengajak pembacanya untuk merefleksikan diri melalui tulisannya.

Pemikiranku perlahan mulai berubah setelah aku membaca bukunya dan tulisan-tulisannya di media sosial. Seolah menjawab keresahanku pada masa quarter life crisis, beliau menamparku untuk berbenah diri menguatkan tujuan hidup tanpa harus membandingkan dengan orang lain. Garis start-nya sama berbeda, masa harus memaksakan finish di waktu yang sama? Beberapa kutipan kalimat favoritku pada buku beliau ialah:

"Matahari tidak pernah meninggalkan bumi, pada jarak yang sama selama bertahun-tahun. Matahari dan bumi adalah dua hal yang memang berlainan. Terlalu dekat membuat keduanya akan saling meniadakan. Mungkin cukup seperti ini hubungan antara matahari dan bumi. Tidak untuk saling berdekatan tetapi dengan jarak yang cukup aman untuk saling mencintai." (Hujan Matahari, hlm.19)

"Kamu tidak harus berubah. Banyak orang memaksakan diri untuk berubah, ujung-ujungnya mereka malah kembali kepada dirinya yang semula -diri yang penuh cela, diri yang ingin diganti. Namun, kamu harus bertumbuh." (Bertumbuh, hlm.xiii)

"Rupanya kamu tidak kemana-mana, justru aku yang begitu. Rupanya kamu tidak pergi, justru aku yang berputar-putar di tempat yang salah. Rupanya rumusnya demikian, ketika aku mencarimu langsung pada Yang Menciptakanmu, aku dapat menemuimu." (Menentukan Arah, hlm.30)

Itulah buku favorit yang mampu mengubahku. Bagaimana denganmu?

Pernah Seperti Itu

"Seberapa salahkah diriku hingga kau sakiti aku begitu menusukku?

Inikah caramu membalas aku yang selalu ada saat kau terluka?
Seberapa hinanya diriku hingga kau ludahi semua yang ku beri untukmu?
Tak ada satu pun perasaan yang mampu membuatku begitu terluka"
...
Hampir 1 dekade berlalu, sebait lagu ini terngiang beriring bersama kepingan kenangan. Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya? Lagu milik band Ungu berjudul Dilema Cinta ini mewakili beberapa perasaanku. Aku pernah merasa sesedih dan sepatah hati itu dahulu, tepatnya di masa putih-biruku. Hanya soal aku suka-tetapi dia tidak menyukaiku balik- dunia serasa runtuh. Belum lagi saat ajaran semester baru dimulai dan tak ada teman sekelas yang ingin duduk sebangku denganku, sedihnya bukan main seolah keberuntungan tak berpihak padaku. Termasuk pula ayahku yang mengomeli aku saat ku terlambat tiba di rumah sepulang sekolah, rasanya rumah tidak memberikanku kehangatan lagi. Coba dibayangkan lagi, tahu apa bocah remaja tanggung akan arti kehidupan kala itu? Yang selalu dipikirannya hanya tentang dirinya.
Kini, aku kembali menertawakan diriku di masa lalu. Pujaan hati yang dulu dikaguminya kabarnya sudah hilang ditelan bumi, teman-temannya yang dulu membuatnya sedih sekarang pun sudah sukses dengan jalannya masing-masing, bahkan orang tuanya hingga saat ini masih lengkap dan senantiasa menanti kabar putri tercintanya yang sedang merantau ini. Bodohnya aku seegois itu. 
...
Aku ternyata hanya takut ditolak.
Aku pun ternyata juga takut kehilangan.
Tak hanya itu, aku juga takut dibenci orang lain.
...
Sekarang? Aku terkadang merasakan hal yang sama kok. Bukan tentang seberapa kuat aku menghindari luka, tetapi seberapa lapang aku dapat menerima keadaan. Bukankah hidup terasa lebih mudah ketika kita tak melawan takdir?

Sunday, 31 January 2021

Melanjutkan Perjalanan

Hallo, 31 Januari 2021!

Tidak terasa yaa, aku sudah melalui 31 hari pertamaku di tahun 2021. Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih karena aku telah diberikan kesempatan untuk menikmati hidupku ini. Belum banyak hal yang kulalui, tetapi kuakui bahwa 31 hari-hariku meninggalkan jejak bersarat makna.

Sebetulnya, project menulisku dalam 30haribercerita semestinya sudah dirampungkan, tetapi karena sebab dan lain hal, aku memilih untuk menikmati tulisanku perlahan demi perlahan. Yaah, walaupun terbesit iri dalam hati, "Banyak juga yang telah menyelesaikan 30haribercerita-nya, yaa..Kok aku lambat banget sih nyelesainnya?". Hehehe, begitulah manusia takkan ada habisnya memikirkan pencapaian orang lain.

Banyak, tawa canda dan juga duka yang kurasakan.

Di awal tahun kusempatkan bersilaturahim mudik menemui kedua orang tuaku dan adikku. Sayangnya, aku tak sempat berjumpa dengan teman-temanku mengingat saat ini masih suasana pandemi COVID-19. Betapa bersyukurnya aku masih bisa menemui keluargaku.

Ku buka lembar awal tahunku dengan amunisi buku baruku. Yup, tidak lain dan tidak bukan ialah buku dari penulis favoritku, Kurniawan Gunadi, berjudul Bising. Selain itu aku juga membeli buku baru berjudul Menenangkan Diri dari Jundi Imam Syuhada. Pokoknya, aku harus perbanyak kembali membaca buku!

Tak hanya itu, bermula dari feed Instagram-pun aku akhirnya tergugah kembali untuk menulis. Sejujurnya, terkadang ideku saat menulis tak terbendung tetapi ada suatu masa saatnya aku mengalami kebuntuan. Ingin konsisten setiap hari menulis, ada saja hambatannya. Kupikir bila tak sekarang, lalu kapan lagi? Daripada aku tidak menulis sama sekali... Dengan menulis dan membaca postingan Instagram dari akun @30haribercerita, rasanya dapat memantik semangatku dan menjadi pengingatku bahwa menulis tak sekedar menulis, tetapi mengolah untaian kata dari jiwa menjadi pesan penuh makna seperti memainkan alat musik, bila melodinya berirama, tentu akan berkesan bagi pendengarnya, bukan?

Duka pun aku rasakan karena belum lama Indonesia kembali berduka dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 setelah 4 menit lepas landas. Aku semakin ketar-ketir karena pesawat menjadi moda transportasiku untuk melepas rindu berjumpa dengan keluargaku. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta keikhlasan dan para penumpang diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.

Ada juga kejadian penuh kejutan lagi. Hari minggu ku mendadak dikejutkan dengan kabar bahwa aku terdaftar sebagai peserta Diklat Bendahara Pengeluaran. Haha, bukan main pusingnya, Memang sih, aku pernah terpikir, "Hal apa yaa, yang kira-kira menantang tetapi masih bisa kulakukan?" Oh, ternyata ini jawabannya, Diklat yang berbarengan dengan Ujian Grading!

Bukan aku namanya, jika optimis dan pesimisnya masih beda-beda tipis dan berbuah overthinking. Sudah tau kalau sebelum tidur mesti menjauhkan diri dari gadget, tapi masih juga dilakukan. Liat postingan orang, selalu deh terpikir "Wah dia udah lanjut studi S2, aku masih gini-gini aja belum ngurus izin belajar." Belum lagi,"Dia seumuran aku, sudah menikah dan punya anak, aku kapan ya? Yang dekat denganku pun nihil, tak ada tanda-tanda." Begitu seterusnya hingga aku mengantuk dengan sendirinya dan terbangun dengan rasa tidak segar. Haha, dasar deh.

Begitulah 2021-ku, tertatih aku berjalan, merangkakpun jadi. 2021, izinkan aku setelah menepi beristirahat untuk kembali melanjutkan perjalanan. Jika diperkenankan, akankah 2021 mengizinkanku untuk menambah peran? Seperti sebagai mahasiswi dan seorang istri, misalnya... Hehe aku tak memaksa bila takdir belum berkehendak, namun jika sudah rezekinya tak bisa kutolak, kan? Semoga aku senantiasa dikuatkan dalam melangkah di setiap agenda kebaikanku. Semangat!

Tuesday, 26 January 2021

Ketidakpastian

 Hidup memang penuh dengan ketidakpastian.

Yang besok dinantikan dapat pergi tak kembali

Yang saat ini datang di kehidupan kita, tak serta merta menetap selamanya bersama kita

Yang saat ini dengan ramah bercengkrama dengan kita, bisa tiba-tiba berpulang kepada-Nya tanpa berpamitan

Yang telah terucap janji suci pernikahan pun belum pasti sehidup-semati

Harta kekayaan milik kita bukan hal yang sulit jika Tuhan berkehendak untuk memusnahkannya

Bahkan saat pandemi COVID-19 berlangsung, tak pernah pasti kapan akan berakhir

Lalu, kita bisa apa di tengah ketidakpastian?

Bukankah Tuhan telah menakdirkan seluruh makhluk hidup-Nya sesuai dengan ketetapan-Nya? 

Percayalah, hidup akan menempa dan memberikan pelajaran berharga bagi kita

Coba saja, jika kita sudah tau apa yang akan terjadi esok hari, apa yang akan terjadi?

Bisa jadi, kita akan bersantai-santai saat tau takkan terjadi hal buruk pada kita…

Bisa juga, bila akan kehilangan seseorang kita akan lebih menghargai detik-detik bersamanya

Lalu, kau pilih yang mana?

Sunday, 24 January 2021

Makna Kebaikan

    Setiap kebaikan tentunya meninggalkan berbagai kesan dan makna bagi yang merasakannya. Bagaimana bisa? Bagiku, sesuatu dapat terlihat baik bagi seseorang tetapi dapat diartikan berbeda dengan orang lain. Baik belum tentu benar, sedangkan benar sudah tentu baik. Kira-kira begitulah penggambarannya. Apakah kamu juga setuju? Menurutku, tak ada salahnya tetapi juga tak sepenuhnya benar. Sebab, kebaikan itu bernilai relatif. 

    Misalkan, kebaikan orang tua dengan perhatian yang tulus kepada anaknya terkadang disalahartikan sebagai bentuk kekesalan sebab anak menilai bahwa kedua orang tuanya seringkali memarahinya ketika ia ingin pergi bermain jauh dengan teman-temannya. Jika ditelusuri, alasan kedua orang tuanya bukan lain hanyalah karena khawatir bila anaknya terluka saat bermain di keramaian. Itulah bentuk kebaikan kasih sayang orang tua. Coba dipikirkan lagi, lebih baik mana pada saat sang anak ingin bermain, orang tuanya tidak memberi peringatan karena ingin anaknya bersenang-senang dengan temannya atau orang tuanya bergegas memarahinya agar tidak bermain sebab tak ingin anaknya terluka? Tidak ada situasi yang lebih baik. Tentu akan lebih ideal bila orang tua senantiasa mengingatkan anaknya tanpa membuat anaknya merasa dimarahi, sebab penting bagi anak untuk membangun kepercayaan diri dengan orang tua.

    Lain lagi dengan kejadian yang pernah aku alami beberapa tahun lalu. Pesan terakhir dari seseorang yang pernah menjadi yang berharga bagiku mengatakan bahwa, "Kamu terlalu baik untukku, maaf untuk semuanya." Lantas aku menjadi bingung. Dimana letak kebaikannya? Bila mengatakan aku baik, mengapa ia menjauhiku dan mengakhiri semua ini? Butuh waktu tak sebentar untuk menemukan jawabannya. Hingga akhirnya dua tahun berlalu, aku tersadar bahwa kami tak cukup dewasa untuk melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya, yakni jenjang pernikahan. Sampai bertemu jawaban pastinya, ia sudah menemukan pendamping hidupnya.

    Dua situasi tersebut membuatku teringat kembali dengan nasihat dari seorang Ustad. "Boleh jadi sesuatu yang menurutmu baik dimata Tuhan mu tidak baik, begitu pula sebaliknya." Tak hanya itu, kupikir lagi bukankah kebaikan dapat bernilai ibadah bila niatnya ikhlas? Ah, aku pun terkadang belum sampai pada tahap itu. Semoga hatiku diridhoi-Nya untuk diberikan kelapangan dan keikhlasan dalam memaknai kebaikan dalam suatu hal, apapun itu. Aamiin.

Tuesday, 19 January 2021

Dialah Sang Kapten

    Beberapa hari dalam sepekan terakhir, masyarakat tengah berduka atas jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 pada tanggal 9 Januari 2021 tujuan Jakarta-Pontianak. Bagaimana tidak mengerikan, baru 4 menit lepas landas pesawat dinyatakan hilang kontak. Setelah dilakukan pencarian, pesawat pun ditemukan jatuh di perairan laut antara Pulau Laki dan Pulau Lancang. Hingga saat ini, pencarian korban masih terus dilakukan dan penyebabnya masih ditelusuri lebih lanjut. Tidak hanya kecelakaan, tetapi juga publik dikejutkan dengan gagalnya mendarat pesawat Garuda Indonesia GA 504 dan Lion Air GT 684 tujuan Jakarta-Pontianak akibat cuaca buruk. Keduanya dialihkan mendarat di Palembang dan Batam.

    Terdorong oleh rasa penasaran, aku mencari informasi lebih lanjut terkait berita tersebut. Pencarianku terhenti sejenak saat di beranda Youtube-ku muncul pemberitaan pesawat Garuda Indonesia tujuan Mataram-Yogyakarta yang mendarat darurat di anak sungai Bengawan Solo pada 16 Januari 2002. Jelas aku tidak ingat karena peristiwa tersebut terjadi saat aku di bangku kelas 2 SD. Betapa mencekamnya kubayangkan peristiwa itu, pilot Capt. Abdul Rozak dan co-pilot Capt. Haryadi Gunawan terpaksa mendaratkan pesawat karena melalui cuaca buruk disertai hujan es yang menyebabkan 2 mesin mati total. Peristiwa tersebut diabadikan melalui buku berjudul "Miracle of Flight"

    Seusai itu, pencarian Youtube-ku memunculkan berbagai rekomendasi video. Yang tidak kalah mengagetkan, aku baru mengetahui bahwa Capt. Abdul Rozak juga terhindar dari peristiwa Gempa Palu tahun 2018 setelah perjalanan pesawat tujuan Makasar-Palu. Diceritakan bahwa beliau sempat terjebak bersama 5 orang lainnya pada sebuah hotel tempat ia menginap dan terpaksa turun dari lantai 3 menuju keluar dengan bantuan selang pemadam kebakaran sebab pintu darurat sudah tidak dapat diakses. Betapa bersyukurnya beliau, dua kali diselamatkan dari marabahaya dengan pertolongan Yang Maha Kuasa. Aku menyimak video wawancara beliau, wajah beliau tenang dalam menghadapi masalah dan tutur katanya santun. Ah, ingin sekali aku belajar dari beliau untuk tenang dan tidak panik dalam situasi apapun. Beliau menyadarkan aku bahwa siap tidak siap, kematian dapat terjadi kapanpun dan dimanapun. Semoga tiada lagi kecelakaan dalam dunia penerbangan Indonesia.

Monday, 18 January 2021

Permulaan

    Entah dari mana muncul dari dalam diriku kekuatan untuk menulis lagi. Semua mengalir begitu saja, bagai air yang tak terbendung mencari muaranya. Tetapi kadang juga tidak semudah itu, tatkala aku ingin menuangkan pikiranku dalam tulisan terkadang mengalami kebuntuan. Kalau bukan karena momen IHT (In House Training) tentang Psychowriting, mungkin aku tidak akan menulis sampai sekarang. Apakah kamu juga pernah merasakan hal yang sama?

    Well, sudah hari ke-6 ku lalui aku kembali merutinkan menulis dan menantang diriku untuk mengikuti project #30haribercerita. Saking bersemangatnya, aku sampai tak membaca lagi peraturannya. Hahaha. Ternyata project ini ditujukan untuk menulis secara rutin selama 30 hari di awal tahun dan di tanggal tertentu ada tema khusus. Harapannya, dengan memulai 30 hari pertama bercerita ini akan membawa bekal untuk 11 bulan yang akan datang. Sudah mengikutinya terlambat, fyi, aku baru mulai tanggal 11 Januari, ditambah lagi aku tidak sesuai tema dan timeline yang diberikan.

    Project ini pun ternyata tak serumit yang kubayangkan. Setelah aku membaca ketentuannya, penulis dapat menyesuaikan diri dalam menuangkan ide tulisannya. Bisa berupa cerpen, puisi, dan lainnya serta fleksibel dalam penentuan tema dan tanggal. Yang terpenting, mulai dulu, kita takkan tahu bila tidak diceritakan dalam tulisan. Bahkan sebelum memulai, disarankan untuk menulis dulu tentang tekad. Begitu kira-kira pesan yang disampaikan. Dengan adanya penentuan tema pun aku cukup terbantu karena mencari inspirasi dapat lebih spesifik. Hahaha, untuk selanjutnya aku akan menyesuaikan dengan tema khusus yang ditentukan. Ku harap ini adalah sebagai permulaan dari semangatku yang pernah padam untuk menulis. Selamat mengolah rasa dan mengolah jiwa dalam rangkaian kata!

Sunday, 17 January 2021

Terserah

 "Mau makan apa nih siang ini?"

"Terserah deh, ikut aja."

.

"Coba liat, bagus baju yang warna biru atau merah?"

"Yaa terserah, kan kamu yang mau pake, semuanya bagus."

"Sekali lagi ngomong terserah, lempar piring cantik nih!"

.

Lagi-lagi terserah. Sudah tidak asing lagi dengan kata terserah. Sedikit-sedikit terserah, apa memang sebegitunya hidupnya selalu diarahkan orang lain? Apa sulitnya membuat keputusan sendiri perkara nanti tidak disetujui orang lain?

Aku harap niatnya baik, karena menghindari bersitegang denganku sehingga ia pilih semua keputusan dikembalikan padaku. It's okay, tak masalah bagiku, Namun, bagaimana bila yang berucap ialah seorang lelaki yang pada hakikatnya sebagai pemimpin? Tidakkah berbahaya, jika mengambil keputusan tak berdasarkan pertimbangan matang, hanya karena tak ingin berbeda pendapat dengan orang lain?

Saturday, 16 January 2021

Perkara Isi Pikiran

     "Asli, akting mereka bagus banget, lho."

    "Sudah tak diragukan memang. Jadi, kamu tim Nam Do-san atau Han Ji-pyeong nih?"

    Aku hanya bisa menatap kedua temanku seraya menyeruput kuah soto santap siangku. Start-Up, itulah drama asal Negeri Gingseng yang tengah jadi perbincangan hangat saat ini. Sekilas yang kuketahui, drama ini menceritakan tentang seseorang yang merintis perusahaannya sendiri dan diikuti dengan cerita keluarga sehari-hari. Selebihnya aku tak tahu, karena memang aku bukan pecinta drama Korea. Bukannya tidak suka, hanya saja aku lebih tertarik membaca novel ketimbang menonton film. Sering kali terjadi, percakapan yang ada di sekitarku kebanyakan tidak aku mengerti. Sebegitu tidak update kah aku?

    Pikiranku kembali berkelana. Rasanya, aku sudah kehilangan teman untuk berdiskusi. Selama ini, jika kuhitung tak banyak hal yang kuperbincangkan dengan teman-temanku. Sesekali tentang tugas sekolah dan membicarakan kabar temanku. Itupun bila terkait gosip yang belum jelas kebenarannya, aku malas menimbrung obrolan dengan teman-temanku. Mungkin itulah sebabnya mereka jarang mengajakku bergosip. Lebih baik aku tidak mengetahuinya sama sekali.

    Tunggu sebentar, apakah justru aku sendiri yang membatasi pikiranku? Yang aku ketahui dari sebuah artikel, komunikasi yang efektif adalah bila pengirim dan penerima pesan mengerti pesan yang disampaikan serta penerima pesan memberikan umpan balik kepada pengirim pesan. Hmm, apakah aku tak cukup baik dalam menyampaikan umpan balik? Apakah karena wawasanku kurang luas sehingga aku tak cakap menanggapinya? Terlebih lagi aku bukan tipe seseorang yang berinisiatif membangun topik. Apakah itu juga masalahnya? Tetapi, aku 'kan juga malas menanggapi bila menyangkut keburukan seseorang.

    Bisa jadi aku lah yang harus banyak belajar dari mereka, Membangun komunikasi sederhana dan beradaptasi dengan ekspektasi. Aku tak ingin kehilangan teman, tetapi aku ingin mencari teman yang satu frekuensi pemikiran denganku sehingga aku dapat memperdalam pemahamanku. Aku tidak nyaman bila harus berlama-lama membicarakan sesuatu hal yang tidak menarik bagiku. Apakah itu salah, seolah aku tidak keluar dari zona nyaman? Begitulah bentuk kekhawatiranku. Tak nyaman dengan situasi tetapi tak terlihat memperjuangkan yang ku inginkan. Aku terlalu takut untuk mengambil keputusan karena akan berbenturan dengan rasa tak enak dengan yang lain. Perkara sepele, tetapi lari kemana-mana. Ah, tak terasa makan siangku telah habis dan terasa hambar karena pikiranku sendiri. Semoga saja itu hanya ketakutanku yang perlahan sirna.

      "Bell, kok kamu bengong sih? Bella lagi mikirin apa?", ucap Melinda menyadarkan lamunanku.

   "Eh, gapapa hehe. Yuk kita bayar dulu. Jam istirahat sebentar lagi selesai nih! Gak ada yang ketinggalan lagi ya, Mel, Far?", tanyaku pada Melinda dan Farah, teman sekelasku.

      "Beres, ga ada yang ketinggalan. Let's go.", ujar Farah.

    

Friday, 15 January 2021

Bertukar Kabar

         "Hahaha ya gitu deh, pokoknya kamu harus dengar ceritaku langsung. Nanti malam jam 8 ku telpon, yaa!"

       Kira-kira begitu isi percakapanku pada pesan singkat Whatsapp dengan Tama, sahabat lelakiku. Ah, betapa menyenangkan sekali memiliki sahabat seperti dia. Pintar, sabar, sopan, dan pendengar yang baik, lho. Sstt.. Dia juga cukup tampan dan populer saat kami satu sekolah. Tak heran saking dekatnya, kami dikira berpacaran. Sebenarnya bila boleh jujur aku memendam rasa, sih. Tetapi, aku tak yakin bila ia memiliki perasaan yang sama. Jadi kupikir, biarlah kami bersahabat seperti ini tanpa rasa canggung. Kalian tolong rahasiakan ini dari Tama, yaa!

        Kami bersahabat cukup lama, dari bangku SMP hingga kuliah kami masih sering berkabar satu sama lain. Tahun ini, aku baru diterima di perusahaan asing ternama di Jakarta dan dia sedang menyelesaikan skripsinya. Meskipun kami kuliah di kampus yang berbeda, kadang kami masih meluangkan waktu untuk bertemu.

       "Hooi, Ris, kok senyum-senyum sendiri sih ngeliatin HP? Oh gw tau! Pasti abis terima chat dari Tama yaa.. Hayoo ngaku!?"

      "Haha, kok tau sih, Drey?", tanyaku pada Audrey, teman sekampusku yang kini juga sekantor denganku.

       "Helloo Risa, gw nih udah lama temenan sama lo. Di jidat lo ada tulisannya, tuh. Lagi nge-chat Tama."

         "Ya ampun bisa aja deh, hehe.", ujarku seraya menepuk bahunya.

         "By the way, si Tama gimana kabarnya? Kalo gak salah, lagi skripsian ya? Tentang apa tuh?"

         "Eh, Hmm.. ya gitu deh, duh apa ya...", jawabku gelagapan.

       "Nah, lo temennya masa gatau, sih? Minimal lo tau gitu, dia skripsinya tentang apa dan gimana perkembangannya."

        "Yaa iya sih, Drey. Tapi, gw ini kan bukan dosen pembimbingnya, keleus..", ucapku membenarkan diri.

        Kupikir benar juga, ya? Kok bisa-bisanya aku sampai tidak mengetahui kabar Tama hingga se-detail itu? Kalau dilihat dari percakapan chat kami, memang Tama tak banyak menceritakan permasalahannya di kampus. Bahkan, lebih banyak aku yang curhat berbagai macam hal padanya, dari hal sepele soal dompetku ketinggalan di kosan sampai masalah skripsiku. Aku pun juga tak ada inisiatif untuk menanyakannya. Apakah kami benar-benar bertukar kabar? 

        Tam, sebenarnya bagaimana kabarmu sekarang? Maaf, aku terlalu egois karena hanya bercerita tentangku seorang tanpa mengetahui beban yang kamu rasakan. Jadi, sini ceritakan padaku. Jika kamu belum mau, aku bersedia kok menunggu sampai kamu mau bercerita! Tapi janji yaa, kita tetap sahabatan!


Thursday, 14 January 2021

Di Balik Hati

"Sejatinya, kita selalu diuji oleh apa yang paling dijunjung oleh hati kita sendiri.", ujar Pak Hadi, atasanku.

    Jleb. Aku yang tengah mencurahkan isi hatiku seketika terenyuh. Bukannya tak terima, justru aku membenarkan ucapannya sembari menangis sesegukan. Kala itu, beliau melihatku sering melamun. Beberapa kali ia menanyakan, akhirnya ku ceritakan sebab perihalnya.

.

.

    Siang itu, aku tak sengaja melihat dia, anggap saja seseorang dari masa laluku, dan kami tak sengaja berpandang mata. Tentu saja aku refleks ingin menyapanya, "Hei, ndy". Suaraku sudah cukup jelas saat itu dan beberapa orang di sekitarku menoleh ke arahku, yang terjadi sebaliknya ia acuh dan berjalan begitu saja. Kejadian yang berlangsung sekian detik itu meluluhlantakkan perasaanku. Memang, aku ini sesalah apa hingga ia mengabaikanku? Toh, aku dan dia punya kesalahan masing-masing sehingga hubungan kami tak berlanjut. Sejujurnya kami tidak ada status mengikat, sih. Singkatnya, setelah aku mengetahui bahwa ia menyukaiku, aku menganggapnya begitu spesial. Namun, semua itu berakhir ketika ia sudah jengah dengan sikap kekanakanku yang mudah marah karena masalah sepele, yaitu slow respon dalam memberi kabar. Sejak saat itu tatkala kami tak sengaja berjumpa, kami menjadi canggung dan suasana begitu dingin. 

    Memang tidak ada harapan untuk kami mengulang ke masa indah itu. Tetapi, apa susahnya sih untuk berteman seperti biasa? 'Kan tidak setiap hari pula bertemu, ketika bertemu, apa susahnya untuk bertegur sapa sebentar lalu pergi kembali? Huft, aku jadi menganggapnya manusia paling tidak sopan.

     "Coba dipikir lagi, setiap tahun muncul keluaran HP terbaru, jika bapak tidak merasa cukup dengan HP bapak sekarang, bukan hal yang tidak mungkin untuk bapak membeli HP baru lagi 'kan? Tetapi karena bapak menganggap hal itu biasa, maka bapak diuji oleh hal lain. Begitu seterusnya Tuhan menguji di titik terlemah kita hingga mencapai ikhlas. Titik lemah kita, itulah yang ada di hati kita", ujar Pak Hadi lagi.

    "Nak.. Ia yang kamu tangisi, tidak cukup dewasa menghadapi masalah. Buktinya, ia acuh dan bisa jadi ia merasa bersalah padamu dan memilih lari dari masalah itu. Menangislah sampai lega, tetapi segeralah bangkit dari kesedihan."

    Benar juga ucapan beliau. Aku yang sudah menginjak 25 tahun ini jadi merasa malu karena menangisi hal sesepele ini. Terima kasih, Pak Hadi, telah mendengarkan curahan hati anak didiknya ini.


Tuesday, 12 January 2021

Menjadi Dewasa

Rasanya, menjadi dewasa itu teramat melelahkan.

Tak boleh terlihat salah, harus berwibawa, meninggalkan kesan menyenangkan bagi orang lain, lalu apa lagi? Jelas-jelas semua itu tak jauh dari makna sempurna.

Dulu, bukannya aku ingin menjadi dewasa? Bebas mengambil keputusan apapun yang menantang karena tak ingin dianggap layaknya anak kecil. Setelah dewasa, sebaliknya justru ingin kembali ke masa kanak-kanak tanpa memikirkan beban hidup yang tak terbendung.

Bagaimana tidak terasa lelah?

Aku merasa kalah padahal belum berjuang.

Setengah mati memikirkan segala macam kemungkinan, nyatanya tak sedikitpun mengambil aksi.

Pusing memperkarakan ucapan orang lain, padahal mereka tak memikirkan proses yang akan ku jalani.

Mau sampai kapan terjebak dalam dewasa yang melelahkan? Atau justru saat ini jiwa kekanakanku terperangkap dalam raga orang dewasa?


Monday, 11 January 2021

Momentum

Kadang, aku butuh terpuruk dulu untuk kembali bangkit.

Tak hanya itu, untuk menuju pintu kebahagiaan aku perlu lalui berliku-liku tangis pilu.

Pun juga dengan memiliki, aku harus merasakan pahitnya kehilangan.

Hidup itu sudah sedemikian rupa diatur. Tinggal bagaimana kita mengaturnya, bukan?

Pelajaran hidup tak semata harus kita arungi semua, dengarkan cerita milik lain secara seksama juga memiliki esensi tersendiri.

Kini aku tersadar, diriku saat ini yang sedang terpaku pada tulisanku sendiri ialah buah dari berbagai momentum seperempat abad yang lalu hingga saat ini.

Aku teringat kala itu, aku sudah terbiasa tak merasakan gagal kini harus lamat-lamat menelan ludah kegagalan.

Ugh, rasanya tentu pahit dan masam. Tetapi agak unik, karena terasa candu untuk menantang diri sampai kutemukan rasa manis gurih. Terdengar aneh bukan? Ah, aku rasa tidak juga.

Lalu saat membaca ini, maukah kamu membangun momen bersamaku?

Monday, 4 January 2021

Welcome to 2021!

    Tidak terasa 2020 secepat itu aku lalui. Baru saja rasanya menginjak bulan Maret, tiba-tiba sudah bertemu lagi bulan Januari. Hmm, apakah waktu yang berjalan begitu cepat? Atau justru aku yang tidak kemana-mana? Aku rasa tidak, perjalanan di 2020 meninggalkan kesan berharga bagiku. Di tahun ini ada isu yang menurutku sedang marak dibicarakan, yaitu mental health dan self love. Dua isu ini saling memiliki keterkaitan satu sama lain terutama di tengah situasi pandemi seperti saat ini...

    Setelah mengetahui tentang urgensi isu tersebut, aku sadar bahwa ternyata aku belum seutuhnya "menerima" diriku sendiri dan cenderung "menolak" bila ada sesuatu hal yang tidak sesuai dengan keinginanku. Well, ternyata hal itu berpengaruh sekali dalam pengambilan keputusan dan langkah-langkah yang aku pilih. Tentu saja ini masih menjadi PR ku di tahun 2021. 

    Ohya, terkait resolusiku di 2021, aku ingin mengembalikan diriku yang dulu yang senang bercerita dengan kata-kata, tidak lain ialah dengan menulis. Mungkin terdengar aneh ataupun telat, aku ingin mengikuti challenge #30haribercerita :D. Tidak hanya itu, aku ingin lebih rapi dan teratur dalam pencatatan finansialku, jangan sampai aku memutuskan membeli sesuatu dengan impulsif! Bahaya sekali bukan?

    Tidak ada salahnya dalam memulai suatu hal kebaikan. 2021 pasti akan penuh tantangan yang harus ku hadapi. Jika tak ku mulai sekarang, lalu kapan lagi? Tak perlu takut untuk melangkah, lebih baik seperti itu daripada kita tak melangkah kemana-mana. Betul tidak? Yuk, hadapi 2021 dengan penuh semangat dan senyum terbaik kita :)