Saturday, 6 February 2021

Pernah Seperti Itu

"Seberapa salahkah diriku hingga kau sakiti aku begitu menusukku?

Inikah caramu membalas aku yang selalu ada saat kau terluka?
Seberapa hinanya diriku hingga kau ludahi semua yang ku beri untukmu?
Tak ada satu pun perasaan yang mampu membuatku begitu terluka"
...
Hampir 1 dekade berlalu, sebait lagu ini terngiang beriring bersama kepingan kenangan. Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya? Lagu milik band Ungu berjudul Dilema Cinta ini mewakili beberapa perasaanku. Aku pernah merasa sesedih dan sepatah hati itu dahulu, tepatnya di masa putih-biruku. Hanya soal aku suka-tetapi dia tidak menyukaiku balik- dunia serasa runtuh. Belum lagi saat ajaran semester baru dimulai dan tak ada teman sekelas yang ingin duduk sebangku denganku, sedihnya bukan main seolah keberuntungan tak berpihak padaku. Termasuk pula ayahku yang mengomeli aku saat ku terlambat tiba di rumah sepulang sekolah, rasanya rumah tidak memberikanku kehangatan lagi. Coba dibayangkan lagi, tahu apa bocah remaja tanggung akan arti kehidupan kala itu? Yang selalu dipikirannya hanya tentang dirinya.
Kini, aku kembali menertawakan diriku di masa lalu. Pujaan hati yang dulu dikaguminya kabarnya sudah hilang ditelan bumi, teman-temannya yang dulu membuatnya sedih sekarang pun sudah sukses dengan jalannya masing-masing, bahkan orang tuanya hingga saat ini masih lengkap dan senantiasa menanti kabar putri tercintanya yang sedang merantau ini. Bodohnya aku seegois itu. 
...
Aku ternyata hanya takut ditolak.
Aku pun ternyata juga takut kehilangan.
Tak hanya itu, aku juga takut dibenci orang lain.
...
Sekarang? Aku terkadang merasakan hal yang sama kok. Bukan tentang seberapa kuat aku menghindari luka, tetapi seberapa lapang aku dapat menerima keadaan. Bukankah hidup terasa lebih mudah ketika kita tak melawan takdir?

No comments:

Post a Comment