Saturday, 16 January 2021

Perkara Isi Pikiran

     "Asli, akting mereka bagus banget, lho."

    "Sudah tak diragukan memang. Jadi, kamu tim Nam Do-san atau Han Ji-pyeong nih?"

    Aku hanya bisa menatap kedua temanku seraya menyeruput kuah soto santap siangku. Start-Up, itulah drama asal Negeri Gingseng yang tengah jadi perbincangan hangat saat ini. Sekilas yang kuketahui, drama ini menceritakan tentang seseorang yang merintis perusahaannya sendiri dan diikuti dengan cerita keluarga sehari-hari. Selebihnya aku tak tahu, karena memang aku bukan pecinta drama Korea. Bukannya tidak suka, hanya saja aku lebih tertarik membaca novel ketimbang menonton film. Sering kali terjadi, percakapan yang ada di sekitarku kebanyakan tidak aku mengerti. Sebegitu tidak update kah aku?

    Pikiranku kembali berkelana. Rasanya, aku sudah kehilangan teman untuk berdiskusi. Selama ini, jika kuhitung tak banyak hal yang kuperbincangkan dengan teman-temanku. Sesekali tentang tugas sekolah dan membicarakan kabar temanku. Itupun bila terkait gosip yang belum jelas kebenarannya, aku malas menimbrung obrolan dengan teman-temanku. Mungkin itulah sebabnya mereka jarang mengajakku bergosip. Lebih baik aku tidak mengetahuinya sama sekali.

    Tunggu sebentar, apakah justru aku sendiri yang membatasi pikiranku? Yang aku ketahui dari sebuah artikel, komunikasi yang efektif adalah bila pengirim dan penerima pesan mengerti pesan yang disampaikan serta penerima pesan memberikan umpan balik kepada pengirim pesan. Hmm, apakah aku tak cukup baik dalam menyampaikan umpan balik? Apakah karena wawasanku kurang luas sehingga aku tak cakap menanggapinya? Terlebih lagi aku bukan tipe seseorang yang berinisiatif membangun topik. Apakah itu juga masalahnya? Tetapi, aku 'kan juga malas menanggapi bila menyangkut keburukan seseorang.

    Bisa jadi aku lah yang harus banyak belajar dari mereka, Membangun komunikasi sederhana dan beradaptasi dengan ekspektasi. Aku tak ingin kehilangan teman, tetapi aku ingin mencari teman yang satu frekuensi pemikiran denganku sehingga aku dapat memperdalam pemahamanku. Aku tidak nyaman bila harus berlama-lama membicarakan sesuatu hal yang tidak menarik bagiku. Apakah itu salah, seolah aku tidak keluar dari zona nyaman? Begitulah bentuk kekhawatiranku. Tak nyaman dengan situasi tetapi tak terlihat memperjuangkan yang ku inginkan. Aku terlalu takut untuk mengambil keputusan karena akan berbenturan dengan rasa tak enak dengan yang lain. Perkara sepele, tetapi lari kemana-mana. Ah, tak terasa makan siangku telah habis dan terasa hambar karena pikiranku sendiri. Semoga saja itu hanya ketakutanku yang perlahan sirna.

      "Bell, kok kamu bengong sih? Bella lagi mikirin apa?", ucap Melinda menyadarkan lamunanku.

   "Eh, gapapa hehe. Yuk kita bayar dulu. Jam istirahat sebentar lagi selesai nih! Gak ada yang ketinggalan lagi ya, Mel, Far?", tanyaku pada Melinda dan Farah, teman sekelasku.

      "Beres, ga ada yang ketinggalan. Let's go.", ujar Farah.

    

No comments:

Post a Comment