"Sejatinya, kita selalu diuji oleh apa yang paling dijunjung oleh hati kita sendiri.", ujar Pak Hadi, atasanku.
Jleb. Aku yang tengah mencurahkan isi hatiku seketika terenyuh. Bukannya tak terima, justru aku membenarkan ucapannya sembari menangis sesegukan. Kala itu, beliau melihatku sering melamun. Beberapa kali ia menanyakan, akhirnya ku ceritakan sebab perihalnya.
.
.
Siang itu, aku tak sengaja melihat dia, anggap saja seseorang dari masa laluku, dan kami tak sengaja berpandang mata. Tentu saja aku refleks ingin menyapanya, "Hei, ndy". Suaraku sudah cukup jelas saat itu dan beberapa orang di sekitarku menoleh ke arahku, yang terjadi sebaliknya ia acuh dan berjalan begitu saja. Kejadian yang berlangsung sekian detik itu meluluhlantakkan perasaanku. Memang, aku ini sesalah apa hingga ia mengabaikanku? Toh, aku dan dia punya kesalahan masing-masing sehingga hubungan kami tak berlanjut. Sejujurnya kami tidak ada status mengikat, sih. Singkatnya, setelah aku mengetahui bahwa ia menyukaiku, aku menganggapnya begitu spesial. Namun, semua itu berakhir ketika ia sudah jengah dengan sikap kekanakanku yang mudah marah karena masalah sepele, yaitu slow respon dalam memberi kabar. Sejak saat itu tatkala kami tak sengaja berjumpa, kami menjadi canggung dan suasana begitu dingin.
Memang tidak ada harapan untuk kami mengulang ke masa indah itu. Tetapi, apa susahnya sih untuk berteman seperti biasa? 'Kan tidak setiap hari pula bertemu, ketika bertemu, apa susahnya untuk bertegur sapa sebentar lalu pergi kembali? Huft, aku jadi menganggapnya manusia paling tidak sopan.
"Coba dipikir lagi, setiap tahun muncul keluaran HP terbaru, jika bapak tidak merasa cukup dengan HP bapak sekarang, bukan hal yang tidak mungkin untuk bapak membeli HP baru lagi 'kan? Tetapi karena bapak menganggap hal itu biasa, maka bapak diuji oleh hal lain. Begitu seterusnya Tuhan menguji di titik terlemah kita hingga mencapai ikhlas. Titik lemah kita, itulah yang ada di hati kita", ujar Pak Hadi lagi.
"Nak.. Ia yang kamu tangisi, tidak cukup dewasa menghadapi masalah. Buktinya, ia acuh dan bisa jadi ia merasa bersalah padamu dan memilih lari dari masalah itu. Menangislah sampai lega, tetapi segeralah bangkit dari kesedihan."
Benar juga ucapan beliau. Aku yang sudah menginjak 25 tahun ini jadi merasa malu karena menangisi hal sesepele ini. Terima kasih, Pak Hadi, telah mendengarkan curahan hati anak didiknya ini.
No comments:
Post a Comment