"Disinilah tempat tak tersentuh, jiwa yang jarang bercengkrama namun berharap meninggalkan jejak makna :)"
Tuesday, 23 February 2021
Teruslah Bergerak
Sunday, 21 February 2021
Tanpa Pamrih
"Dek Ayu, jangan lupa angkat jemuran. Nanti keujanan"
"Iya, Bu..."
.
"Dek, bikinin Bapakmu kopi, sana. Udah jam segini"
.
"Deek, kok belum dibuatin kopinya, sih?"
Ayu bergegas keluar kamar menuju dapur karena mendengar teriakan ibunya. Sesaat setelah tiba di dapur, ia melihat ibunya telah berdiri di dapur seraya mengadukkan kopi di cangkir.
"Lho, Ibu udah buat kopinya? Tadi bukannya Ibu nyuruh adek?", tanya Ayu.
"Iya, Dek. Abis nunggu kamu kelamaan, sih."
Ayu pun lantas meninggalkan dapur sambil menggerutu.
Lagi-lagi seperti itu. Bukan pertama kalinya Ayu kesal dengan sikap ibunya. Memang sebagai anak sudah tugasnya menjalankan perintah orang tua. Tetapi, yang membuatnya kesal ialah sikap kedua orang tuanya yang perfeksionis dan terkadang meminta tolong tanpa melihat situasi dan kondisi anaknya sendiri. Ayu bukan orang yang mengambil pusing perkara hal yang tidak disukainya walaupun seringkali pula ia marah-marah sendiri seusai disuruh ibunya.
"Bu, adek pamit berangkat yaa, Nindi udah nunggu di stasiun.", ujar Ayu sambil mencium tangan ibunya.
"Iya, hati-hati, Dek. Ingat jangan pulang malam-malam.", pesan ibu.
"Siap, Bu.", ucap Ayu seraya menghampiri ojek online yang telah menunggu di depan halaman rumahnya.
Ayu tiba di pintu masuk stasiun, setelah itu ia berlari menuju peron menghampiri Nindi.
"Nindi! Duuh sorry yaa gw telat.",sapa Ayu menepuk bahu Nindi.
"Gapapa, kok. Baru juga sebentar. Yuk, udah dateng tuh KRL Jakarta Kota.", ujar Nindi.
Mereka berjalan mendekati kereta yang perlahan berhenti. Pintu kereta terbuka, mereka melangkahkan kaki dengan hati-hati. Kemudian, mereka menyusuri gerbong dan menemukan kursi penumpang yang kosong.
"Wah akhirnya dapet juga tempat duduk jam segini. Biasanya rame nih, Nin."
"Iya juga yaa, Yu. Ini masih jam 15.00 juga sih. Btw, tadi kenapa kok mukanya bete gitu pas nyamperin gw di stasiun?", tanya Nindi.
"Masa, sih? Jelas-jelas gw pake masker."
"Heheh, nada bicara gak bisa ditutupin kali. Yaudah gapapa kalo belum mau cerita, yu."
Sebetulnya, Ayu bukan tipe anak yang mudah terbuka untuk bercerita pada orang lain. Baginya, ia lebih nyaman seperti itu dibandingkan harus membuka topeng di hadapan temannya, kecuali Nindi, sahabat karibnya.
"Jadi gini, Nin. Biasa lah, gw agak ga sreg aja kalo nyokap nyuruh-nyuruh. Gw bukan pemalas kok, cuma nunggu mood enak aja buat ngerjainnya. Tadi nyokap minta tolong gw pas lagi siap-siap, udah keburu-buru eh ternyata udah dikerjain sendiri."
"Nah, sebelumnya lu lagi ngapain, Yu?"
"Main HP sambil rebahan aja, sih..."
"Weee jelas lah nyokap lu gak sabaran! Bantuin dulu, baru main HP. Udah gitu pasti lu tadi siap-siapnya mepet waktu janjian, kan?"
"Hehe emang mepet, sih. Tapi gw 'kan sadar diri juga kalo main HP gak sampe ber jam-jam."
"Hahah, duh sama banget kayak gw sebenernya. Tapi gini, ketimbang lu merasa ga suka disuruh-suruh, gimana selanjutnya lu coba langsung kerjain, atau minimal bilang kalo lagi ada hal lain yang dikerjain dulu, jadi tugas dari nyokap lu menyusul dikerjain."
"Bisa juga, sih. Tapi, gw keburu males jelasin duluan. Oke kalo soal ini gw salah karena nunda kerjaan sambil main HP, masalahnya gw lebih gak sreg lagi kalo gw diingetin suatu hal yang menurut gw sifatnya gak usah diingetin. Misalkan, diingetin minum obat lah, beresin kamar lah, 'kan gw berasa jadi kayak bocah. Gw udah umur 20 tahun, kali."
"Gimana pun kita tetap dianggap sebagai anak-anak di mata orang tua kita. Daripada ngegerutu, gimana kalo berikutnya lu ucapin makasih karena udah diingetin? Gak semua orang tua care lho, banyak juga yang cuek, bahkan udah gak punya orang tua..."
Degh. Benar juga kata Nindi. Ayu bergumam sendiri.
"Ayu? Masih dengerin gw 'kan?"
"Eh? Iya kok, gw dengerin nih."
"Contoh yang lebih kompleks lagi nih ya. Misalkan lu udah berkeluarga. Suami lu sibuk banget tapi masih nyempetin diri buat bantuin bebenah rumah. Nah, lu jangan tersinggung karena lu sebagai ibu rumah tangga gak sempat bebenah rumah gara-gara sibuk ngurus anak. Tapi, lu jangan keenakan juga dan gak ngurus rumah mentang-mentang dia bantuin bebenah. Rumah tangga bukan hanya formalitas suami kerja, istri ngurus anak dan rumah, melainkan juga saling bahu membahu melengkapi bahkan tanpa pamrih. Bukan juga soal siapa yang paling hebat di rumah. Kebayang gak kalo suami merasa hebat karena sepulang kerja bisa masak? Trus kebayang juga gak kalo istri merasa lebih hebat daripada suami karena bekerja dan gajinya lebih besar daripada suaminya? Pasti mudah banget deh, keucap kata cerai."
"Duh ngeri dengernya, jangan sampe deh kita kayak gitu.", ucap Ayu sembari mengangguk setuju pada Nindi.
Pengumuman di KRL tak lama berbunyi. Masinis memberitahukan bahwa kereta akan tiba di Stasiun Juanda.
"Lho, Nin? Kok udah mau sampe Juanda? Kita 'kan mau turun di Cikini?"
"Walah, iyaya, Yu. Gw gak merhatiin dari jendela juga soalnya."
"Abisnya lu panjang banget sih, Nin. Gw ceritanya cuma bentar, lu ngomongnya kayak dosen ngajar 3 SKS. Jadi kebablasan deh kita."
"Hahah jangan gitu dong, Yu. Janji jangan ngambek yaa, gw traktir jajan sebelum sampe Salemba deh!"
"Becanda, Nin. Hahah, eh kalo traktirannya beneran mau banget nih gw."
"Dasar kesempatan lu, hahah. Yaudah nih, Yu. Pintu keretanya sebentar lagi kebuka."
Mereka melangkahkan kaki keluar. Sementara itu, Ayu lebih tenang setelah bercerita dengan Nindi.
Saturday, 6 February 2021
Foto Lima Tahun Lalu
Mundur lima tahun dari sekarang, berarti tepat tahun 2016. Kembali ku buka galeri album memory card lamaku, sayangnya tidak ada yang tersisa karena backup terakhir hanya tersimpan foto sejak 2018. Teringat aku dengan jejak digital pada akun instagram, akhirnya kutemukan foto penuh kenangan lima tahun yang lalu. Tentu saja, ini adalah foto wisudaku setelah menempuh pendidikan D3 di kampus perjuangan.
Foto ini mewakili kebahagiaanku dan keluargaku. Kekhawatiranku akan masa depan tertutupi oleh euforia saat itu dan ketika itu aku sudah diterima bekerja selama seminggu. Ada satu moment membuatku sadar saat ibu menanyakanku, "Mbak, kok namanya gak dipanggil dan muncul di layar?"Aku rasa ada balutan kecewa karena putrinya tak seperti wisudawan lainnya. Sederhana kujelaskan bahwa wisudawan terpilih tersebut ialah yang memiliki IPK cumlaude, mendapatkan IPK diatas 3 saja sudah lebih dari cukup. Ibuku tersenyum sembari mengajakku berfoto. Hujan deras kala itu tak menyurutkan kebahagiaan kami.
Dibalik toga yang dapat kukenakan, ada doa dan harapan kedua orangtuaku yang tersemat di setiap malam. Memang sih, aku tak seperti teman-temanku yang harus membagi waktu antara rapat organisasi, mencari sambilan kerja, menahan rindu karena hidup di rantauan, atau rela begadang demi belajar sebelum ujian. Bahkan, aku sempat merasa salah jurusan karena sempat tidak merasa nyaman dan mudah mengerti tentang mata kuliahnya. Tetapi jika sudah terlanjur basah, lebih baik sekalian berenang 'kan?
Jawabannya memang tidak kutemui saat masih berkuliah, namun akhirnya sudah kutemukan dua tahun yang lalu. Ilmu yang kudapat selama kuliah sangat berguna sampai saat ini dan itu hanya sebagian kecil yang kuhadapi di dunia kerja. Tentu berarti aku tak bisa berpuas diri dan harus tetap belajar. Semoga, berbekal dari kenangan foto ini aku mampu menjaga keberkahan ilmu dan rezeki yang ku dapat. Ibu, Bapak, terima kasih telah mendidikku hingga saat ini.
Buku yang Mengubahku
Bila diberi pertanyaan "Buku apakah yang dapat mengubahmu?", maka aku perlu waktu cukup lama untuk memikirkannya Buku paspor? Buku nikah? Eits, tentu bukan itu jawabannya... Sebagai penikmat literasi, aku memiliki beberapa pilihan bacaan yang kugemari. Aku menyukai komik karena memiliki cerita bergambar, aku pun menikmati novel -dengan genre tertentu- sebab aku dapat berimajinasi dalam setiap baris cerita, serta tak ketinggalan pula aku pun menikmati buku biografi tokoh terkenal, karena aku tak jarang aku mendapat inspirasi setelah membaca biografi. Sudah tertebak 'kan, buku yang kusukai? Betul, tak jauh-jauh dari buku non fiksi.
Namun, dalam dua tahun terakhir ada satu buku yang membuatku berdecak kagum dengan penulisnya. Bukan Tere Liye, bukan pula J.K Rowlings, tetapi Kurniawan Gunadi. Mas Gun, sapaannya, merupakan lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB yang aktif menulis pada akun media sosialnya, seperti Tumblr dan Instagram. Bukunya yang berjudul Hujan Matahari, membuatku tertegun menggelengkan kepala. Sebenarnya, tak hanya itu saja. Karyanya yang berjudul Bertumbuh dan Menentukan Arah juga meninggalkan kesan mendalam. Gaya penulisannya pun sederhana dan dikuatkan dengan pemilihan diksi yang tepat. Mas Gun selalu mengajak pembacanya untuk merefleksikan diri melalui tulisannya.
Pemikiranku perlahan mulai berubah setelah aku membaca bukunya dan tulisan-tulisannya di media sosial. Seolah menjawab keresahanku pada masa quarter life crisis, beliau menamparku untuk berbenah diri menguatkan tujuan hidup tanpa harus membandingkan dengan orang lain. Garis start-nya sama berbeda, masa harus memaksakan finish di waktu yang sama? Beberapa kutipan kalimat favoritku pada buku beliau ialah:
"Matahari tidak pernah meninggalkan bumi, pada jarak yang sama selama bertahun-tahun. Matahari dan bumi adalah dua hal yang memang berlainan. Terlalu dekat membuat keduanya akan saling meniadakan. Mungkin cukup seperti ini hubungan antara matahari dan bumi. Tidak untuk saling berdekatan tetapi dengan jarak yang cukup aman untuk saling mencintai." (Hujan Matahari, hlm.19)
"Kamu tidak harus berubah. Banyak orang memaksakan diri untuk berubah, ujung-ujungnya mereka malah kembali kepada dirinya yang semula -diri yang penuh cela, diri yang ingin diganti. Namun, kamu harus bertumbuh." (Bertumbuh, hlm.xiii)
"Rupanya kamu tidak kemana-mana, justru aku yang begitu. Rupanya kamu tidak pergi, justru aku yang berputar-putar di tempat yang salah. Rupanya rumusnya demikian, ketika aku mencarimu langsung pada Yang Menciptakanmu, aku dapat menemuimu." (Menentukan Arah, hlm.30)
Itulah buku favorit yang mampu mengubahku. Bagaimana denganmu?
Pernah Seperti Itu
"Seberapa salahkah diriku hingga kau sakiti aku begitu menusukku?

