Rasanya, menjadi dewasa itu teramat melelahkan.
Tak boleh terlihat salah, harus berwibawa, meninggalkan kesan menyenangkan bagi orang lain, lalu apa lagi? Jelas-jelas semua itu tak jauh dari makna sempurna.
Dulu, bukannya aku ingin menjadi dewasa? Bebas mengambil keputusan apapun yang menantang karena tak ingin dianggap layaknya anak kecil. Setelah dewasa, sebaliknya justru ingin kembali ke masa kanak-kanak tanpa memikirkan beban hidup yang tak terbendung.
Bagaimana tidak terasa lelah?
Aku merasa kalah padahal belum berjuang.
Setengah mati memikirkan segala macam kemungkinan, nyatanya tak sedikitpun mengambil aksi.
Pusing memperkarakan ucapan orang lain, padahal mereka tak memikirkan proses yang akan ku jalani.
Mau sampai kapan terjebak dalam dewasa yang melelahkan? Atau justru saat ini jiwa kekanakanku terperangkap dalam raga orang dewasa?
No comments:
Post a Comment