Sunday, 25 July 2021

Dunia Maya

    Hari demi hari kulalui, tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Akan tetapi, aku merasa hidupku "begini-begini" saja tanpa ada perubahan yang berarti. Hari minggu aku bergegas menyambut senin. Ketika senin tiba, tidak terasa sudah hari rabu, begitupun berlalu tiba-tiba sudah hari sabtu. Seterusnya begitu. Jelas-jelas bukan salah waktu. Toh, setiap orang memiliki waktu 24 jam yang sama, 'kan?

    Pikiranku kembali terkilas balik ke beberapa pekan lalu. Sudah benar kok, aku menjalankan tugas dan pekerjaanku relatif baik. Apalagi ya? Aku juga sudah jauh lebih care dengan kesehatanku, baik dari segi fisik maupun mental, rasanya tak perlu ada yang dikhawatirkan (kecuali kesehatan dompetku). Nyatanya, hubunganku dengan sekitarku tak mengalami masalah yang berarti. Semua nampak lurus-lurus saja, namun masih terasa mengganjal.

    Coba apalagi yang kulalui, dari hari minggu hingga bertemu minggu lagi? Tak ada sesuatu yang spesial (justru itu dong, dirimu sendiri yang membuatnya spesial...). Ah, sejenak aku perhatikan beberapa minggu terakhir aku lebih intens memainkan gawai atau gadgetku. Hmm, menarik. Bisa jadi sih. Mungkin jiwaku masih tertinggal di dunia maya dan belum kembali ke dunia nyata? Lantas, apa yang harus ku lakukan untuk membuatnya kembali?

    Perangkap dunia maya, tak ayal seperti dua sisi mata pisau. Tentu saja banyak hal baru yang kuketahui bermula dari internet. Tidak hanya itu, aku pun dapat mengetahui kabar teman yang sekalipun aku jarang bertemu dengannya melalui media sosial. Lagi-lagi, di sisi lain jika kita tak berbijak hati dan jari memanfaatkan internet, bukan hal yang tak mungkin bila kita terlena membuang waktu berlamun dalam dunia maya. Begitulah, seperti aku saat ini. Sekali dua kali nampak terasa menyenangkan dapat melepas penat. Selanjutnya, bisa menjadi berbanding terbalik semisal kita menjadi mudah iri hati melihat kebahagiaan orang lain dalam sebatas media sosial. 

        Jadi, sudah tau solusinya, kan?

Makna Kesendirian

Aku berjalan telah sejauh ini, masih terasa berat. Bukan apa-apa, rasanya bekal perjalananku tak terlalu banyak hingga aku berat melangkahkan kaki. Pun juga tidak terlalu sedikit dikatakan sebagai bekal sampai aku amat ringan untuk melangkah. Beberapa kilometer ku tempuh hingga aku memutuskan untuk menepi sejenak.

Fiuhh.. Ku buka tas untuk meraih bekal. Barangkali di perjalanan berikutnya aku akan kehausan atau kelaparan. Sempat ku berpikir sesaat, sampai akhirnya aku memilih menyimpan sisa bekalku. Sebenarnya, dahagaku tak tertahankan tetapi aku takut persediaan bekalku tak cukup dan aku tak menemukan air segar kembali. Kembali aku bersiap merapikan perbekalanku untuk melanjutkan perjalanan.

Kini aku menyusuri jalan yang sebelumnya tak pernah kulalui. Untungnya, matahari tak terlalu terik sehingga aku tak kepanasan. Sesekali hembusan angin turut menerpa menemaniku. Ku tengok pula di sekelilingku.

Aku memang berjalan seorang diri, tetapi tak benar-benar sendiri.

Di sekitarku yang banyak orang yang tak ku kenal, tentu mereka melangkah dengan masalah yang dipikulnya sendiri. Mungkin, yang saat ini sama sekali tidak ku kenal, akan menjadi seseorang yang aku kenal dan akan akrab denganku? Bisa jadi.

Percayalah. Fokus dalam kesendirian tak akan membuatmu kesepian. Namun ingatlah untuk meminta pertolongan bila terjadi sesuatu hal yang tidak kau inginkan dan belum mampu kau atasi.