Sunday, 24 January 2021

Makna Kebaikan

    Setiap kebaikan tentunya meninggalkan berbagai kesan dan makna bagi yang merasakannya. Bagaimana bisa? Bagiku, sesuatu dapat terlihat baik bagi seseorang tetapi dapat diartikan berbeda dengan orang lain. Baik belum tentu benar, sedangkan benar sudah tentu baik. Kira-kira begitulah penggambarannya. Apakah kamu juga setuju? Menurutku, tak ada salahnya tetapi juga tak sepenuhnya benar. Sebab, kebaikan itu bernilai relatif. 

    Misalkan, kebaikan orang tua dengan perhatian yang tulus kepada anaknya terkadang disalahartikan sebagai bentuk kekesalan sebab anak menilai bahwa kedua orang tuanya seringkali memarahinya ketika ia ingin pergi bermain jauh dengan teman-temannya. Jika ditelusuri, alasan kedua orang tuanya bukan lain hanyalah karena khawatir bila anaknya terluka saat bermain di keramaian. Itulah bentuk kebaikan kasih sayang orang tua. Coba dipikirkan lagi, lebih baik mana pada saat sang anak ingin bermain, orang tuanya tidak memberi peringatan karena ingin anaknya bersenang-senang dengan temannya atau orang tuanya bergegas memarahinya agar tidak bermain sebab tak ingin anaknya terluka? Tidak ada situasi yang lebih baik. Tentu akan lebih ideal bila orang tua senantiasa mengingatkan anaknya tanpa membuat anaknya merasa dimarahi, sebab penting bagi anak untuk membangun kepercayaan diri dengan orang tua.

    Lain lagi dengan kejadian yang pernah aku alami beberapa tahun lalu. Pesan terakhir dari seseorang yang pernah menjadi yang berharga bagiku mengatakan bahwa, "Kamu terlalu baik untukku, maaf untuk semuanya." Lantas aku menjadi bingung. Dimana letak kebaikannya? Bila mengatakan aku baik, mengapa ia menjauhiku dan mengakhiri semua ini? Butuh waktu tak sebentar untuk menemukan jawabannya. Hingga akhirnya dua tahun berlalu, aku tersadar bahwa kami tak cukup dewasa untuk melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya, yakni jenjang pernikahan. Sampai bertemu jawaban pastinya, ia sudah menemukan pendamping hidupnya.

    Dua situasi tersebut membuatku teringat kembali dengan nasihat dari seorang Ustad. "Boleh jadi sesuatu yang menurutmu baik dimata Tuhan mu tidak baik, begitu pula sebaliknya." Tak hanya itu, kupikir lagi bukankah kebaikan dapat bernilai ibadah bila niatnya ikhlas? Ah, aku pun terkadang belum sampai pada tahap itu. Semoga hatiku diridhoi-Nya untuk diberikan kelapangan dan keikhlasan dalam memaknai kebaikan dalam suatu hal, apapun itu. Aamiin.

No comments:

Post a Comment