Kadang, aku butuh terpuruk dulu untuk kembali bangkit.
Tak hanya itu, untuk menuju pintu kebahagiaan aku perlu lalui berliku-liku tangis pilu.
Pun juga dengan memiliki, aku harus merasakan pahitnya kehilangan.
Hidup itu sudah sedemikian rupa diatur. Tinggal bagaimana kita mengaturnya, bukan?
Pelajaran hidup tak semata harus kita arungi semua, dengarkan cerita milik lain secara seksama juga memiliki esensi tersendiri.
Kini aku tersadar, diriku saat ini yang sedang terpaku pada tulisanku sendiri ialah buah dari berbagai momentum seperempat abad yang lalu hingga saat ini.
Aku teringat kala itu, aku sudah terbiasa tak merasakan gagal kini harus lamat-lamat menelan ludah kegagalan.
Ugh, rasanya tentu pahit dan masam. Tetapi agak unik, karena terasa candu untuk menantang diri sampai kutemukan rasa manis gurih. Terdengar aneh bukan? Ah, aku rasa tidak juga.
Lalu saat membaca ini, maukah kamu membangun momen bersamaku?
No comments:
Post a Comment