Sunday, 31 January 2021

Melanjutkan Perjalanan

Hallo, 31 Januari 2021!

Tidak terasa yaa, aku sudah melalui 31 hari pertamaku di tahun 2021. Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih karena aku telah diberikan kesempatan untuk menikmati hidupku ini. Belum banyak hal yang kulalui, tetapi kuakui bahwa 31 hari-hariku meninggalkan jejak bersarat makna.

Sebetulnya, project menulisku dalam 30haribercerita semestinya sudah dirampungkan, tetapi karena sebab dan lain hal, aku memilih untuk menikmati tulisanku perlahan demi perlahan. Yaah, walaupun terbesit iri dalam hati, "Banyak juga yang telah menyelesaikan 30haribercerita-nya, yaa..Kok aku lambat banget sih nyelesainnya?". Hehehe, begitulah manusia takkan ada habisnya memikirkan pencapaian orang lain.

Banyak, tawa canda dan juga duka yang kurasakan.

Di awal tahun kusempatkan bersilaturahim mudik menemui kedua orang tuaku dan adikku. Sayangnya, aku tak sempat berjumpa dengan teman-temanku mengingat saat ini masih suasana pandemi COVID-19. Betapa bersyukurnya aku masih bisa menemui keluargaku.

Ku buka lembar awal tahunku dengan amunisi buku baruku. Yup, tidak lain dan tidak bukan ialah buku dari penulis favoritku, Kurniawan Gunadi, berjudul Bising. Selain itu aku juga membeli buku baru berjudul Menenangkan Diri dari Jundi Imam Syuhada. Pokoknya, aku harus perbanyak kembali membaca buku!

Tak hanya itu, bermula dari feed Instagram-pun aku akhirnya tergugah kembali untuk menulis. Sejujurnya, terkadang ideku saat menulis tak terbendung tetapi ada suatu masa saatnya aku mengalami kebuntuan. Ingin konsisten setiap hari menulis, ada saja hambatannya. Kupikir bila tak sekarang, lalu kapan lagi? Daripada aku tidak menulis sama sekali... Dengan menulis dan membaca postingan Instagram dari akun @30haribercerita, rasanya dapat memantik semangatku dan menjadi pengingatku bahwa menulis tak sekedar menulis, tetapi mengolah untaian kata dari jiwa menjadi pesan penuh makna seperti memainkan alat musik, bila melodinya berirama, tentu akan berkesan bagi pendengarnya, bukan?

Duka pun aku rasakan karena belum lama Indonesia kembali berduka dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 setelah 4 menit lepas landas. Aku semakin ketar-ketir karena pesawat menjadi moda transportasiku untuk melepas rindu berjumpa dengan keluargaku. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta keikhlasan dan para penumpang diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.

Ada juga kejadian penuh kejutan lagi. Hari minggu ku mendadak dikejutkan dengan kabar bahwa aku terdaftar sebagai peserta Diklat Bendahara Pengeluaran. Haha, bukan main pusingnya, Memang sih, aku pernah terpikir, "Hal apa yaa, yang kira-kira menantang tetapi masih bisa kulakukan?" Oh, ternyata ini jawabannya, Diklat yang berbarengan dengan Ujian Grading!

Bukan aku namanya, jika optimis dan pesimisnya masih beda-beda tipis dan berbuah overthinking. Sudah tau kalau sebelum tidur mesti menjauhkan diri dari gadget, tapi masih juga dilakukan. Liat postingan orang, selalu deh terpikir "Wah dia udah lanjut studi S2, aku masih gini-gini aja belum ngurus izin belajar." Belum lagi,"Dia seumuran aku, sudah menikah dan punya anak, aku kapan ya? Yang dekat denganku pun nihil, tak ada tanda-tanda." Begitu seterusnya hingga aku mengantuk dengan sendirinya dan terbangun dengan rasa tidak segar. Haha, dasar deh.

Begitulah 2021-ku, tertatih aku berjalan, merangkakpun jadi. 2021, izinkan aku setelah menepi beristirahat untuk kembali melanjutkan perjalanan. Jika diperkenankan, akankah 2021 mengizinkanku untuk menambah peran? Seperti sebagai mahasiswi dan seorang istri, misalnya... Hehe aku tak memaksa bila takdir belum berkehendak, namun jika sudah rezekinya tak bisa kutolak, kan? Semoga aku senantiasa dikuatkan dalam melangkah di setiap agenda kebaikanku. Semangat!

Tuesday, 26 January 2021

Ketidakpastian

 Hidup memang penuh dengan ketidakpastian.

Yang besok dinantikan dapat pergi tak kembali

Yang saat ini datang di kehidupan kita, tak serta merta menetap selamanya bersama kita

Yang saat ini dengan ramah bercengkrama dengan kita, bisa tiba-tiba berpulang kepada-Nya tanpa berpamitan

Yang telah terucap janji suci pernikahan pun belum pasti sehidup-semati

Harta kekayaan milik kita bukan hal yang sulit jika Tuhan berkehendak untuk memusnahkannya

Bahkan saat pandemi COVID-19 berlangsung, tak pernah pasti kapan akan berakhir

Lalu, kita bisa apa di tengah ketidakpastian?

Bukankah Tuhan telah menakdirkan seluruh makhluk hidup-Nya sesuai dengan ketetapan-Nya? 

Percayalah, hidup akan menempa dan memberikan pelajaran berharga bagi kita

Coba saja, jika kita sudah tau apa yang akan terjadi esok hari, apa yang akan terjadi?

Bisa jadi, kita akan bersantai-santai saat tau takkan terjadi hal buruk pada kita…

Bisa juga, bila akan kehilangan seseorang kita akan lebih menghargai detik-detik bersamanya

Lalu, kau pilih yang mana?

Sunday, 24 January 2021

Makna Kebaikan

    Setiap kebaikan tentunya meninggalkan berbagai kesan dan makna bagi yang merasakannya. Bagaimana bisa? Bagiku, sesuatu dapat terlihat baik bagi seseorang tetapi dapat diartikan berbeda dengan orang lain. Baik belum tentu benar, sedangkan benar sudah tentu baik. Kira-kira begitulah penggambarannya. Apakah kamu juga setuju? Menurutku, tak ada salahnya tetapi juga tak sepenuhnya benar. Sebab, kebaikan itu bernilai relatif. 

    Misalkan, kebaikan orang tua dengan perhatian yang tulus kepada anaknya terkadang disalahartikan sebagai bentuk kekesalan sebab anak menilai bahwa kedua orang tuanya seringkali memarahinya ketika ia ingin pergi bermain jauh dengan teman-temannya. Jika ditelusuri, alasan kedua orang tuanya bukan lain hanyalah karena khawatir bila anaknya terluka saat bermain di keramaian. Itulah bentuk kebaikan kasih sayang orang tua. Coba dipikirkan lagi, lebih baik mana pada saat sang anak ingin bermain, orang tuanya tidak memberi peringatan karena ingin anaknya bersenang-senang dengan temannya atau orang tuanya bergegas memarahinya agar tidak bermain sebab tak ingin anaknya terluka? Tidak ada situasi yang lebih baik. Tentu akan lebih ideal bila orang tua senantiasa mengingatkan anaknya tanpa membuat anaknya merasa dimarahi, sebab penting bagi anak untuk membangun kepercayaan diri dengan orang tua.

    Lain lagi dengan kejadian yang pernah aku alami beberapa tahun lalu. Pesan terakhir dari seseorang yang pernah menjadi yang berharga bagiku mengatakan bahwa, "Kamu terlalu baik untukku, maaf untuk semuanya." Lantas aku menjadi bingung. Dimana letak kebaikannya? Bila mengatakan aku baik, mengapa ia menjauhiku dan mengakhiri semua ini? Butuh waktu tak sebentar untuk menemukan jawabannya. Hingga akhirnya dua tahun berlalu, aku tersadar bahwa kami tak cukup dewasa untuk melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya, yakni jenjang pernikahan. Sampai bertemu jawaban pastinya, ia sudah menemukan pendamping hidupnya.

    Dua situasi tersebut membuatku teringat kembali dengan nasihat dari seorang Ustad. "Boleh jadi sesuatu yang menurutmu baik dimata Tuhan mu tidak baik, begitu pula sebaliknya." Tak hanya itu, kupikir lagi bukankah kebaikan dapat bernilai ibadah bila niatnya ikhlas? Ah, aku pun terkadang belum sampai pada tahap itu. Semoga hatiku diridhoi-Nya untuk diberikan kelapangan dan keikhlasan dalam memaknai kebaikan dalam suatu hal, apapun itu. Aamiin.

Tuesday, 19 January 2021

Dialah Sang Kapten

    Beberapa hari dalam sepekan terakhir, masyarakat tengah berduka atas jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 pada tanggal 9 Januari 2021 tujuan Jakarta-Pontianak. Bagaimana tidak mengerikan, baru 4 menit lepas landas pesawat dinyatakan hilang kontak. Setelah dilakukan pencarian, pesawat pun ditemukan jatuh di perairan laut antara Pulau Laki dan Pulau Lancang. Hingga saat ini, pencarian korban masih terus dilakukan dan penyebabnya masih ditelusuri lebih lanjut. Tidak hanya kecelakaan, tetapi juga publik dikejutkan dengan gagalnya mendarat pesawat Garuda Indonesia GA 504 dan Lion Air GT 684 tujuan Jakarta-Pontianak akibat cuaca buruk. Keduanya dialihkan mendarat di Palembang dan Batam.

    Terdorong oleh rasa penasaran, aku mencari informasi lebih lanjut terkait berita tersebut. Pencarianku terhenti sejenak saat di beranda Youtube-ku muncul pemberitaan pesawat Garuda Indonesia tujuan Mataram-Yogyakarta yang mendarat darurat di anak sungai Bengawan Solo pada 16 Januari 2002. Jelas aku tidak ingat karena peristiwa tersebut terjadi saat aku di bangku kelas 2 SD. Betapa mencekamnya kubayangkan peristiwa itu, pilot Capt. Abdul Rozak dan co-pilot Capt. Haryadi Gunawan terpaksa mendaratkan pesawat karena melalui cuaca buruk disertai hujan es yang menyebabkan 2 mesin mati total. Peristiwa tersebut diabadikan melalui buku berjudul "Miracle of Flight"

    Seusai itu, pencarian Youtube-ku memunculkan berbagai rekomendasi video. Yang tidak kalah mengagetkan, aku baru mengetahui bahwa Capt. Abdul Rozak juga terhindar dari peristiwa Gempa Palu tahun 2018 setelah perjalanan pesawat tujuan Makasar-Palu. Diceritakan bahwa beliau sempat terjebak bersama 5 orang lainnya pada sebuah hotel tempat ia menginap dan terpaksa turun dari lantai 3 menuju keluar dengan bantuan selang pemadam kebakaran sebab pintu darurat sudah tidak dapat diakses. Betapa bersyukurnya beliau, dua kali diselamatkan dari marabahaya dengan pertolongan Yang Maha Kuasa. Aku menyimak video wawancara beliau, wajah beliau tenang dalam menghadapi masalah dan tutur katanya santun. Ah, ingin sekali aku belajar dari beliau untuk tenang dan tidak panik dalam situasi apapun. Beliau menyadarkan aku bahwa siap tidak siap, kematian dapat terjadi kapanpun dan dimanapun. Semoga tiada lagi kecelakaan dalam dunia penerbangan Indonesia.

Monday, 18 January 2021

Permulaan

    Entah dari mana muncul dari dalam diriku kekuatan untuk menulis lagi. Semua mengalir begitu saja, bagai air yang tak terbendung mencari muaranya. Tetapi kadang juga tidak semudah itu, tatkala aku ingin menuangkan pikiranku dalam tulisan terkadang mengalami kebuntuan. Kalau bukan karena momen IHT (In House Training) tentang Psychowriting, mungkin aku tidak akan menulis sampai sekarang. Apakah kamu juga pernah merasakan hal yang sama?

    Well, sudah hari ke-6 ku lalui aku kembali merutinkan menulis dan menantang diriku untuk mengikuti project #30haribercerita. Saking bersemangatnya, aku sampai tak membaca lagi peraturannya. Hahaha. Ternyata project ini ditujukan untuk menulis secara rutin selama 30 hari di awal tahun dan di tanggal tertentu ada tema khusus. Harapannya, dengan memulai 30 hari pertama bercerita ini akan membawa bekal untuk 11 bulan yang akan datang. Sudah mengikutinya terlambat, fyi, aku baru mulai tanggal 11 Januari, ditambah lagi aku tidak sesuai tema dan timeline yang diberikan.

    Project ini pun ternyata tak serumit yang kubayangkan. Setelah aku membaca ketentuannya, penulis dapat menyesuaikan diri dalam menuangkan ide tulisannya. Bisa berupa cerpen, puisi, dan lainnya serta fleksibel dalam penentuan tema dan tanggal. Yang terpenting, mulai dulu, kita takkan tahu bila tidak diceritakan dalam tulisan. Bahkan sebelum memulai, disarankan untuk menulis dulu tentang tekad. Begitu kira-kira pesan yang disampaikan. Dengan adanya penentuan tema pun aku cukup terbantu karena mencari inspirasi dapat lebih spesifik. Hahaha, untuk selanjutnya aku akan menyesuaikan dengan tema khusus yang ditentukan. Ku harap ini adalah sebagai permulaan dari semangatku yang pernah padam untuk menulis. Selamat mengolah rasa dan mengolah jiwa dalam rangkaian kata!

Sunday, 17 January 2021

Terserah

 "Mau makan apa nih siang ini?"

"Terserah deh, ikut aja."

.

"Coba liat, bagus baju yang warna biru atau merah?"

"Yaa terserah, kan kamu yang mau pake, semuanya bagus."

"Sekali lagi ngomong terserah, lempar piring cantik nih!"

.

Lagi-lagi terserah. Sudah tidak asing lagi dengan kata terserah. Sedikit-sedikit terserah, apa memang sebegitunya hidupnya selalu diarahkan orang lain? Apa sulitnya membuat keputusan sendiri perkara nanti tidak disetujui orang lain?

Aku harap niatnya baik, karena menghindari bersitegang denganku sehingga ia pilih semua keputusan dikembalikan padaku. It's okay, tak masalah bagiku, Namun, bagaimana bila yang berucap ialah seorang lelaki yang pada hakikatnya sebagai pemimpin? Tidakkah berbahaya, jika mengambil keputusan tak berdasarkan pertimbangan matang, hanya karena tak ingin berbeda pendapat dengan orang lain?

Saturday, 16 January 2021

Perkara Isi Pikiran

     "Asli, akting mereka bagus banget, lho."

    "Sudah tak diragukan memang. Jadi, kamu tim Nam Do-san atau Han Ji-pyeong nih?"

    Aku hanya bisa menatap kedua temanku seraya menyeruput kuah soto santap siangku. Start-Up, itulah drama asal Negeri Gingseng yang tengah jadi perbincangan hangat saat ini. Sekilas yang kuketahui, drama ini menceritakan tentang seseorang yang merintis perusahaannya sendiri dan diikuti dengan cerita keluarga sehari-hari. Selebihnya aku tak tahu, karena memang aku bukan pecinta drama Korea. Bukannya tidak suka, hanya saja aku lebih tertarik membaca novel ketimbang menonton film. Sering kali terjadi, percakapan yang ada di sekitarku kebanyakan tidak aku mengerti. Sebegitu tidak update kah aku?

    Pikiranku kembali berkelana. Rasanya, aku sudah kehilangan teman untuk berdiskusi. Selama ini, jika kuhitung tak banyak hal yang kuperbincangkan dengan teman-temanku. Sesekali tentang tugas sekolah dan membicarakan kabar temanku. Itupun bila terkait gosip yang belum jelas kebenarannya, aku malas menimbrung obrolan dengan teman-temanku. Mungkin itulah sebabnya mereka jarang mengajakku bergosip. Lebih baik aku tidak mengetahuinya sama sekali.

    Tunggu sebentar, apakah justru aku sendiri yang membatasi pikiranku? Yang aku ketahui dari sebuah artikel, komunikasi yang efektif adalah bila pengirim dan penerima pesan mengerti pesan yang disampaikan serta penerima pesan memberikan umpan balik kepada pengirim pesan. Hmm, apakah aku tak cukup baik dalam menyampaikan umpan balik? Apakah karena wawasanku kurang luas sehingga aku tak cakap menanggapinya? Terlebih lagi aku bukan tipe seseorang yang berinisiatif membangun topik. Apakah itu juga masalahnya? Tetapi, aku 'kan juga malas menanggapi bila menyangkut keburukan seseorang.

    Bisa jadi aku lah yang harus banyak belajar dari mereka, Membangun komunikasi sederhana dan beradaptasi dengan ekspektasi. Aku tak ingin kehilangan teman, tetapi aku ingin mencari teman yang satu frekuensi pemikiran denganku sehingga aku dapat memperdalam pemahamanku. Aku tidak nyaman bila harus berlama-lama membicarakan sesuatu hal yang tidak menarik bagiku. Apakah itu salah, seolah aku tidak keluar dari zona nyaman? Begitulah bentuk kekhawatiranku. Tak nyaman dengan situasi tetapi tak terlihat memperjuangkan yang ku inginkan. Aku terlalu takut untuk mengambil keputusan karena akan berbenturan dengan rasa tak enak dengan yang lain. Perkara sepele, tetapi lari kemana-mana. Ah, tak terasa makan siangku telah habis dan terasa hambar karena pikiranku sendiri. Semoga saja itu hanya ketakutanku yang perlahan sirna.

      "Bell, kok kamu bengong sih? Bella lagi mikirin apa?", ucap Melinda menyadarkan lamunanku.

   "Eh, gapapa hehe. Yuk kita bayar dulu. Jam istirahat sebentar lagi selesai nih! Gak ada yang ketinggalan lagi ya, Mel, Far?", tanyaku pada Melinda dan Farah, teman sekelasku.

      "Beres, ga ada yang ketinggalan. Let's go.", ujar Farah.

    

Friday, 15 January 2021

Bertukar Kabar

         "Hahaha ya gitu deh, pokoknya kamu harus dengar ceritaku langsung. Nanti malam jam 8 ku telpon, yaa!"

       Kira-kira begitu isi percakapanku pada pesan singkat Whatsapp dengan Tama, sahabat lelakiku. Ah, betapa menyenangkan sekali memiliki sahabat seperti dia. Pintar, sabar, sopan, dan pendengar yang baik, lho. Sstt.. Dia juga cukup tampan dan populer saat kami satu sekolah. Tak heran saking dekatnya, kami dikira berpacaran. Sebenarnya bila boleh jujur aku memendam rasa, sih. Tetapi, aku tak yakin bila ia memiliki perasaan yang sama. Jadi kupikir, biarlah kami bersahabat seperti ini tanpa rasa canggung. Kalian tolong rahasiakan ini dari Tama, yaa!

        Kami bersahabat cukup lama, dari bangku SMP hingga kuliah kami masih sering berkabar satu sama lain. Tahun ini, aku baru diterima di perusahaan asing ternama di Jakarta dan dia sedang menyelesaikan skripsinya. Meskipun kami kuliah di kampus yang berbeda, kadang kami masih meluangkan waktu untuk bertemu.

       "Hooi, Ris, kok senyum-senyum sendiri sih ngeliatin HP? Oh gw tau! Pasti abis terima chat dari Tama yaa.. Hayoo ngaku!?"

      "Haha, kok tau sih, Drey?", tanyaku pada Audrey, teman sekampusku yang kini juga sekantor denganku.

       "Helloo Risa, gw nih udah lama temenan sama lo. Di jidat lo ada tulisannya, tuh. Lagi nge-chat Tama."

         "Ya ampun bisa aja deh, hehe.", ujarku seraya menepuk bahunya.

         "By the way, si Tama gimana kabarnya? Kalo gak salah, lagi skripsian ya? Tentang apa tuh?"

         "Eh, Hmm.. ya gitu deh, duh apa ya...", jawabku gelagapan.

       "Nah, lo temennya masa gatau, sih? Minimal lo tau gitu, dia skripsinya tentang apa dan gimana perkembangannya."

        "Yaa iya sih, Drey. Tapi, gw ini kan bukan dosen pembimbingnya, keleus..", ucapku membenarkan diri.

        Kupikir benar juga, ya? Kok bisa-bisanya aku sampai tidak mengetahui kabar Tama hingga se-detail itu? Kalau dilihat dari percakapan chat kami, memang Tama tak banyak menceritakan permasalahannya di kampus. Bahkan, lebih banyak aku yang curhat berbagai macam hal padanya, dari hal sepele soal dompetku ketinggalan di kosan sampai masalah skripsiku. Aku pun juga tak ada inisiatif untuk menanyakannya. Apakah kami benar-benar bertukar kabar? 

        Tam, sebenarnya bagaimana kabarmu sekarang? Maaf, aku terlalu egois karena hanya bercerita tentangku seorang tanpa mengetahui beban yang kamu rasakan. Jadi, sini ceritakan padaku. Jika kamu belum mau, aku bersedia kok menunggu sampai kamu mau bercerita! Tapi janji yaa, kita tetap sahabatan!


Thursday, 14 January 2021

Di Balik Hati

"Sejatinya, kita selalu diuji oleh apa yang paling dijunjung oleh hati kita sendiri.", ujar Pak Hadi, atasanku.

    Jleb. Aku yang tengah mencurahkan isi hatiku seketika terenyuh. Bukannya tak terima, justru aku membenarkan ucapannya sembari menangis sesegukan. Kala itu, beliau melihatku sering melamun. Beberapa kali ia menanyakan, akhirnya ku ceritakan sebab perihalnya.

.

.

    Siang itu, aku tak sengaja melihat dia, anggap saja seseorang dari masa laluku, dan kami tak sengaja berpandang mata. Tentu saja aku refleks ingin menyapanya, "Hei, ndy". Suaraku sudah cukup jelas saat itu dan beberapa orang di sekitarku menoleh ke arahku, yang terjadi sebaliknya ia acuh dan berjalan begitu saja. Kejadian yang berlangsung sekian detik itu meluluhlantakkan perasaanku. Memang, aku ini sesalah apa hingga ia mengabaikanku? Toh, aku dan dia punya kesalahan masing-masing sehingga hubungan kami tak berlanjut. Sejujurnya kami tidak ada status mengikat, sih. Singkatnya, setelah aku mengetahui bahwa ia menyukaiku, aku menganggapnya begitu spesial. Namun, semua itu berakhir ketika ia sudah jengah dengan sikap kekanakanku yang mudah marah karena masalah sepele, yaitu slow respon dalam memberi kabar. Sejak saat itu tatkala kami tak sengaja berjumpa, kami menjadi canggung dan suasana begitu dingin. 

    Memang tidak ada harapan untuk kami mengulang ke masa indah itu. Tetapi, apa susahnya sih untuk berteman seperti biasa? 'Kan tidak setiap hari pula bertemu, ketika bertemu, apa susahnya untuk bertegur sapa sebentar lalu pergi kembali? Huft, aku jadi menganggapnya manusia paling tidak sopan.

     "Coba dipikir lagi, setiap tahun muncul keluaran HP terbaru, jika bapak tidak merasa cukup dengan HP bapak sekarang, bukan hal yang tidak mungkin untuk bapak membeli HP baru lagi 'kan? Tetapi karena bapak menganggap hal itu biasa, maka bapak diuji oleh hal lain. Begitu seterusnya Tuhan menguji di titik terlemah kita hingga mencapai ikhlas. Titik lemah kita, itulah yang ada di hati kita", ujar Pak Hadi lagi.

    "Nak.. Ia yang kamu tangisi, tidak cukup dewasa menghadapi masalah. Buktinya, ia acuh dan bisa jadi ia merasa bersalah padamu dan memilih lari dari masalah itu. Menangislah sampai lega, tetapi segeralah bangkit dari kesedihan."

    Benar juga ucapan beliau. Aku yang sudah menginjak 25 tahun ini jadi merasa malu karena menangisi hal sesepele ini. Terima kasih, Pak Hadi, telah mendengarkan curahan hati anak didiknya ini.


Tuesday, 12 January 2021

Menjadi Dewasa

Rasanya, menjadi dewasa itu teramat melelahkan.

Tak boleh terlihat salah, harus berwibawa, meninggalkan kesan menyenangkan bagi orang lain, lalu apa lagi? Jelas-jelas semua itu tak jauh dari makna sempurna.

Dulu, bukannya aku ingin menjadi dewasa? Bebas mengambil keputusan apapun yang menantang karena tak ingin dianggap layaknya anak kecil. Setelah dewasa, sebaliknya justru ingin kembali ke masa kanak-kanak tanpa memikirkan beban hidup yang tak terbendung.

Bagaimana tidak terasa lelah?

Aku merasa kalah padahal belum berjuang.

Setengah mati memikirkan segala macam kemungkinan, nyatanya tak sedikitpun mengambil aksi.

Pusing memperkarakan ucapan orang lain, padahal mereka tak memikirkan proses yang akan ku jalani.

Mau sampai kapan terjebak dalam dewasa yang melelahkan? Atau justru saat ini jiwa kekanakanku terperangkap dalam raga orang dewasa?


Monday, 11 January 2021

Momentum

Kadang, aku butuh terpuruk dulu untuk kembali bangkit.

Tak hanya itu, untuk menuju pintu kebahagiaan aku perlu lalui berliku-liku tangis pilu.

Pun juga dengan memiliki, aku harus merasakan pahitnya kehilangan.

Hidup itu sudah sedemikian rupa diatur. Tinggal bagaimana kita mengaturnya, bukan?

Pelajaran hidup tak semata harus kita arungi semua, dengarkan cerita milik lain secara seksama juga memiliki esensi tersendiri.

Kini aku tersadar, diriku saat ini yang sedang terpaku pada tulisanku sendiri ialah buah dari berbagai momentum seperempat abad yang lalu hingga saat ini.

Aku teringat kala itu, aku sudah terbiasa tak merasakan gagal kini harus lamat-lamat menelan ludah kegagalan.

Ugh, rasanya tentu pahit dan masam. Tetapi agak unik, karena terasa candu untuk menantang diri sampai kutemukan rasa manis gurih. Terdengar aneh bukan? Ah, aku rasa tidak juga.

Lalu saat membaca ini, maukah kamu membangun momen bersamaku?

Monday, 4 January 2021

Welcome to 2021!

    Tidak terasa 2020 secepat itu aku lalui. Baru saja rasanya menginjak bulan Maret, tiba-tiba sudah bertemu lagi bulan Januari. Hmm, apakah waktu yang berjalan begitu cepat? Atau justru aku yang tidak kemana-mana? Aku rasa tidak, perjalanan di 2020 meninggalkan kesan berharga bagiku. Di tahun ini ada isu yang menurutku sedang marak dibicarakan, yaitu mental health dan self love. Dua isu ini saling memiliki keterkaitan satu sama lain terutama di tengah situasi pandemi seperti saat ini...

    Setelah mengetahui tentang urgensi isu tersebut, aku sadar bahwa ternyata aku belum seutuhnya "menerima" diriku sendiri dan cenderung "menolak" bila ada sesuatu hal yang tidak sesuai dengan keinginanku. Well, ternyata hal itu berpengaruh sekali dalam pengambilan keputusan dan langkah-langkah yang aku pilih. Tentu saja ini masih menjadi PR ku di tahun 2021. 

    Ohya, terkait resolusiku di 2021, aku ingin mengembalikan diriku yang dulu yang senang bercerita dengan kata-kata, tidak lain ialah dengan menulis. Mungkin terdengar aneh ataupun telat, aku ingin mengikuti challenge #30haribercerita :D. Tidak hanya itu, aku ingin lebih rapi dan teratur dalam pencatatan finansialku, jangan sampai aku memutuskan membeli sesuatu dengan impulsif! Bahaya sekali bukan?

    Tidak ada salahnya dalam memulai suatu hal kebaikan. 2021 pasti akan penuh tantangan yang harus ku hadapi. Jika tak ku mulai sekarang, lalu kapan lagi? Tak perlu takut untuk melangkah, lebih baik seperti itu daripada kita tak melangkah kemana-mana. Betul tidak? Yuk, hadapi 2021 dengan penuh semangat dan senyum terbaik kita :)