Friday, 24 December 2021

Tertampar

Mungkin terdengar aneh.

Pada umumnya, seseorang tidak akan merasa nyaman apabila ada orang lain yang tidak sependapat pemikirannya bahkan cenderung menentang. Begitu pula denganku. Apapun alasannya, secara naluriah orang akan berusaha mempertahankan pendapatnya, entah dengan langsung mengutarakan, hanya terdiam karena tidak berani mengungkapkan, atau bibirnya tak sanggup berkata apa-apa hingga tangannya melayangkan amarah. Suka tidak suka, dalam kehidupan sehari-hari pun hal ini tidak bisa dihindari. Tidak perlu jauh-jauh, ibu dan anak yang jelas-jelas sedarah saja dapat berbeda pendapat, apalagi yang lain?

Aku termasuk di antara sekian orang yang tak suka berdebat atau mempermasalahkan perbedaan pendapat, justru karena inipun aku dianggap labil seperti tak berpendirian teguh. Ah bukan, aku hanya bersifat fleksibel dan tidak kaku terhadap masalah apapun. Jelas alasannya aku tak suka merasa tertampar dengan ucapan orang lain.

Lain hal nya dengan buku. Entah bagaimana caranya, beberapa buku dapat menghipnotisku sehingga seolah ia menamparku melalui serangkaian kata. Hebatnya, bukannya berhenti membaca karena tak suka, aku pun melanjutkan membaca lembar demi lembar buku yang menamparku. Memang tidak semua, sih. Umumnya adalah buku-buku bernuansa self development. Beberapa orang mungkin bilang akan membosankan, tetapi tidak denganku. Rasanya, aku lebih baik dinasihati buku daripada mendengar ucapan orang secara langsung. Ah tidak, aku bukan anak pintar yang kutu buku, kok. Aku pun juga pemilih dalam memilih bacaan. Adakah yang lain yang merasakan hal yang sama sepertiku?

(Masih) Melanjutkan Perjalanan

24 Desember 2021, 

Genap seminggu lagi ternyata kita akan memulai perjalanan di tahun baru, yaitu tahun 2022. Well, ternyata utang atas #30haribercerita ku belum tuntas :D 

Tidak apa apa. Aku hanya terlalu banyak alasan untuk memulai menulis kembali. Aku banyak menunda sesuatu hal yang semestinya bisa langsung dituntaskan untuk segera selesai. Aku hanya sok sibuk, tidak mau mengorbankan waktu untuk mengurangi istirahatku agar semua ini tuntas. Aku hanya memaksakan diri untuk menciptakan waktu dan mood yang sempurna untuk memulai, hingga pada akhirnya saat yang tepat tersebut tak kunjung tiba. Aku hanya tak sabar menghadapi perangkat laptopku yang mulai lemot. Apalagi? Kurang lebih aku membiarkan semesta berlalu tanpa aku berusaha menyelesaikannya. Bukankah tulisan yang bagus adalah yang ditulis dari hati dan tuntas diselesaikan?

Kembali lagi, aku akan melanjutkan perjalanan. Tidak lagi berjalan, aku akan berlari mengejar ketertinggalanku. Yuk, tinggal menghitung hari!