Ingatan manusia kadang terbatas, namun kenangan yang dilewati tak berbatas. Seringkali manusia mengasosiasikan suatu hal (entah suasana, hari, bahkan benda tertentu) dengan sebuah kenangan, tak terkecuali diriku sendiri. Semisal aku di jalan melewati SD ku, meskipun gedungnya sudah berubah pikiranku tetap berkelana menyusuri saat-saat aku bermain dengan teman-temanku selepas belajar di kelas, tanpa khawatir akan menjadi apa aku di masa 10 tahun yang akan datang.
Dulu, aku senang sekali menuliskan bagaimana hari-hari yang kujalani dalam secarik kertas. Selelah apapun, selalu kuluangkan waktu untuk menulis. Bahkan, saat aku kelas 4 SD aku bertukar buku harian dengan sahabatku. Sesederhana itu aku bisa merasakan bahagianya dapat berbagi dengan temanku dengan menulis. Tentu saja, sahabatku ini sudah jauh lebih hebat dariku. Bakat menulisnya selalu ia asah dengan mengikuti berbagai lomba hingga kabar terakhir ku dengar ia mendapat nominasi sebagai puisi terfavorit di suatu lomba. Hanya mendengar kabarnya saja sudah membuatku bahagia. Bila ditarik kembali, menurutmu apakah bahagiaku sama dengan belasan tahun lalu?
Apa makna bahagiamu? Memiliki banyak uang dan teman? Bergelimang harta? Bekerja sesuai passion tanpa lelah dikejar deadline? Melanjutkan studi hingga ke luar negeri? Menikah dengan orang yang sangat dicintai? Itu semua kembali pada hati. Bahagiaku mungkin bisa sama, bisa juga berbeda denganmu. Pada akhirnya, sejauh apapun yang kita cari, ketenangan jiwa lah yang menuntun perjalanan panjang kita. Bukan tentang apa yang membuat kita bahagia, tetapi apa yang bisa kita ciptakan untuk mencapai rasa bahagia. Yuk, kita ciptakan bahagia kita tanpa dibatasi oleh stigma apapun itu!
No comments:
Post a Comment