Saturday, 8 May 2021

Tak Tersampaikan

 "Ma, Pa.. Maafkan aku. Aku tau kalian bangga dengan diriku. Tapi tidak dengan diriku. Banyak hal yang ingin kuceritakan pada kalian.. Lagi-lagi, kupikir tak pantas aku berkeluh kesah di hadapan kalian yang selama ini telah memperjuangkan hidupku."

"Audrey, sudah berapa lama kita bersama sebagai teman? Tak terasa ya, sudah 5 tahun kita saling mengenal? Kamu tau kan jika aku tak memiliki banyak teman? Maafkan aku juga ya, jujur aku merasa tidak nyaman jika teman-teman yang lain lebih akrab denganmu daripada denganku. Aku muak. Aku semakin kesepian di antara keramaian."

"Jean, perjumpaan kita hanya sekejap, tetapi meninggalkan kenangan yang tak mungkin semudah itu kulupakan. Maaf, jika aku belum merelakan dirimu bersanding dengan yang lain. Aku tau di saat kita yang tak mungkin bersatu kembali teramat egois. Mungkin ini kah yang dinamakan cinta, atau justru obsesi semata? Karena aku tak tau bagaimana caranya untuk membencimu."

"Mama, Papa, teman-temanku terkhusus Audrey dan Jean, kutinggalkan surat terakhirku untuk kalian. Aku sedih. Aku putus asa. Aku tak tau harus memulai bercerita dari mana. Kalian mengetahui perasaanku saat ini sudah lebih dari cukup bagiku. Maaf, aku harus pergi selama-lamanya. Semoga kalian bahagia tanpaku."

*

Secarik kertas itu menjadi saksi bisu. Irena berniat mengakhiri hidupnya. Malam itu juga. Huft, inilah saatnya. Ia menguatkan diri dan menyeka air matanya.

"Tunggu! Apa-apaan ini?", gumam Irena.

Irena terbangun dan meraih laci meja belajarnya. Rasanya ia masih ingat bahwa ia menyimpan barang itu di laci mejanya. Ia kembali merogoh, memastikan barang yang ia cari ditemukan. Ah, ini dia. Akhirnya ketemu.

Kamar Irena semakin terang setelah ia menyalakan korek api gas. Betul, itulah barang tersembunyi yang ia cari di laci mejanya. Kecil mungil, api pun semakin menyala-nyala seakan menertawakan Irena. Tetapi itu tak membuat Irena gentar, kemudian ia meraih sepucuk surat yang ia tulis sebelumnya.

"Baik. Inilah yang semestinya ku lakukan.", ucap Irena memantapkan hati.

Nyala api melahap perlahan surat yang telah dituliskannya, lama-lama menjadi abu. Biarlah isi hatinya tak tersampaikan. Karena surat itu takkan pernah sampai pada tujuannya, hanya kembali ke pemiliknya.