Sunday, 25 April 2021

Sudah, belum?

Sudah kubilang, kamu bilang lelah, memang kamu sudah berjuang belum?

Jika sudah berjuang, sejauh mana perjuanganmu?

Kamu bilang kamu tak bisa mendapatkan apapun seperti orang-orang di sekitarmu, memang kamu sudah bersyukur belum?

Kamu bilang uangmu selalu pas-pasan menghidupi kebutuhanmu, memang kamu sudah berusaha untuk berhemat belum? Sudah mencari cara lain untuk menambah penghasilan belum?

Kamu bilang, kamu tak seberuntung teman sebayamu yang telah memiliki pasangan hidup, memang kamu sudah memantaskan diri belum?

Pun kamu bilang bosan dengan lingkunganmu yang itu-itu saja dan monoton. memangnya kamu sudah mencoba membangun networking dan memberikan dampak positif untuk sekitarmu belum?

Tak hanya itu, kamu bilang mereka punya privillege sehingga dengan mudah meraih suksesny, memangnya kamu sudah pantas menerima privillege yang menurutmu bisa kamu banggakan itu belum?

Akan banyak tanya yang hanya kamu ketahui jawabannya, meskipun pada akhirnya tidak semua pertanyaan akan ada jawabnya dan tidak semua jawaban perlu dipertanyakan.


-Catatan pengingatku menginjak di hari ke-13 Ramadhan, semoga senantiasa diberikan nikmat sehat wal 'afiat untuk beribadah dan dijauhkan dari kefuturan-

Sunday, 18 April 2021

Menyederhanakan Rasa

    Pernahkah suatu hari kamu merasa kesal sekesal-kesalnya kepada temanmu atau bahkan orang tuamu tanpa sebab yang jelas? Barangkali ada masanya kita pernah merasakan hal ini. Mari kita samakan persepsi terlebih dulu. Lebih tepatnya, merasakan emosi dan sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Saat kita masih bayi, orang tua kita terkadang kebingungan menerjemahkan isak tangis kita, karena di masa-masa itu bayi berbahasa komunikasi utamanya ialah dengan tangis dan/atau tawa. Perlahan orang tua terbiasa, akhirnya mulai memahami bahasa anaknya, baik itu tangis karena lapar, mengantuk, dan sebagainya.

    Kita pun setelah memasuki usia sekolah, bahkan setelah lulus sekolah, tidak akan terlepas dari memahami emosi diri sendiri dan orang lain, yang akhirnya jika sering dilatih akan menumbuhkan rasa empati. Lantas, sebenarnya apakah ada yang namanya emosi tanpa sebab? Jika tidak ada, mengapa ada yang bisa tiba-tiba menangis tanpa mengetahui tanpa sebab, atau mudah tertawa terbahak-bahak karena hal sederhana?

    Robert Plutchik, menjelaskan bahwa klasifikasinya terhadap emosi manusia yang disebut Roda Emosi Plutchik (Plutchik's Wheel of Emotions) terdapat delapan emosi dasar yang masing-masing dapat dibagi tiga menurut intensitasnya seperti gambar berikut:



         Menurutku, dengan kita mengetahui akar dari emosi perasaan, maka akan mudah bagi kita untuk menyikapinya dan dapat terfokus untuk mengantisipasi bila sedang merasakan emosi negatif. Misalkan, dalam beberapa hari kira merasa takut tanpa sebab, setelah ditelusuri asal mulanya, ternyata sumber ketakutan kita adalah insecure atau merasa rendah diri, ketika ditarik lagi sebabnya ternyata adalah merasa malu dengan pencapaian diri yang tidak sebanding dengan teman sebaya. Dalam fasenya, lebih dikenal dengan Quarter Life Crisis. Bagaimana, sudahkah kamu temukan dan sederhanakan emosi yang kamu rasakan hari ini?

Saturday, 3 April 2021

Bahagia tak Berbatas

    Ingatan manusia kadang terbatas, namun kenangan yang dilewati tak berbatas. Seringkali manusia mengasosiasikan suatu hal (entah suasana, hari, bahkan benda tertentu) dengan sebuah kenangan, tak terkecuali diriku sendiri. Semisal aku di jalan melewati SD ku, meskipun gedungnya sudah berubah pikiranku tetap berkelana menyusuri saat-saat aku bermain dengan teman-temanku selepas belajar di kelas, tanpa khawatir akan menjadi apa aku di masa 10 tahun yang akan datang.

    Dulu, aku senang sekali menuliskan bagaimana hari-hari yang kujalani dalam secarik kertas. Selelah apapun, selalu kuluangkan waktu untuk menulis. Bahkan, saat aku kelas 4 SD aku bertukar buku harian dengan sahabatku. Sesederhana itu aku bisa merasakan bahagianya dapat berbagi dengan temanku dengan menulis. Tentu saja, sahabatku ini sudah jauh lebih hebat dariku. Bakat menulisnya selalu ia asah dengan mengikuti berbagai lomba hingga kabar terakhir ku dengar ia mendapat nominasi sebagai puisi terfavorit di suatu lomba. Hanya mendengar kabarnya saja sudah membuatku bahagia. Bila ditarik kembali, menurutmu apakah bahagiaku sama dengan belasan tahun lalu?

    Apa makna bahagiamu? Memiliki banyak uang dan teman? Bergelimang harta? Bekerja sesuai passion tanpa lelah dikejar deadline? Melanjutkan studi hingga ke luar negeri? Menikah dengan orang yang sangat dicintai? Itu semua kembali pada hati. Bahagiaku mungkin bisa sama, bisa juga berbeda denganmu. Pada akhirnya, sejauh apapun yang kita cari, ketenangan jiwa lah yang menuntun perjalanan panjang kita. Bukan tentang apa yang membuat kita bahagia, tetapi apa yang bisa kita ciptakan untuk mencapai rasa bahagia. Yuk, kita ciptakan bahagia kita tanpa dibatasi oleh stigma apapun itu!