"Hahaha ya gitu deh, pokoknya kamu harus dengar ceritaku langsung. Nanti malam jam 8 ku telpon, yaa!"
Kira-kira begitu isi percakapanku pada pesan singkat Whatsapp dengan Tama, sahabat lelakiku. Ah, betapa menyenangkan sekali memiliki sahabat seperti dia. Pintar, sabar, sopan, dan pendengar yang baik, lho. Sstt.. Dia juga cukup tampan dan populer saat kami satu sekolah. Tak heran saking dekatnya, kami dikira berpacaran. Sebenarnya bila boleh jujur aku memendam rasa, sih. Tetapi, aku tak yakin bila ia memiliki perasaan yang sama. Jadi kupikir, biarlah kami bersahabat seperti ini tanpa rasa canggung. Kalian tolong rahasiakan ini dari Tama, yaa!
Kami bersahabat cukup lama, dari bangku SMP hingga kuliah kami masih sering berkabar satu sama lain. Tahun ini, aku baru diterima di perusahaan asing ternama di Jakarta dan dia sedang menyelesaikan skripsinya. Meskipun kami kuliah di kampus yang berbeda, kadang kami masih meluangkan waktu untuk bertemu.
"Hooi, Ris, kok senyum-senyum sendiri sih ngeliatin HP? Oh gw tau! Pasti abis terima chat dari Tama yaa.. Hayoo ngaku!?"
"Haha, kok tau sih, Drey?", tanyaku pada Audrey, teman sekampusku yang kini juga sekantor denganku.
"Helloo Risa, gw nih udah lama temenan sama lo. Di jidat lo ada tulisannya, tuh. Lagi nge-chat Tama."
"Ya ampun bisa aja deh, hehe.", ujarku seraya menepuk bahunya.
"By the way, si Tama gimana kabarnya? Kalo gak salah, lagi skripsian ya? Tentang apa tuh?"
"Eh, Hmm.. ya gitu deh, duh apa ya...", jawabku gelagapan.
"Nah, lo temennya masa gatau, sih? Minimal lo tau gitu, dia skripsinya tentang apa dan gimana perkembangannya."
"Yaa iya sih, Drey. Tapi, gw ini kan bukan dosen pembimbingnya, keleus..", ucapku membenarkan diri.
Kupikir benar juga, ya? Kok bisa-bisanya aku sampai tidak mengetahui kabar Tama hingga se-detail itu? Kalau dilihat dari percakapan chat kami, memang Tama tak banyak menceritakan permasalahannya di kampus. Bahkan, lebih banyak aku yang curhat berbagai macam hal padanya, dari hal sepele soal dompetku ketinggalan di kosan sampai masalah skripsiku. Aku pun juga tak ada inisiatif untuk menanyakannya. Apakah kami benar-benar bertukar kabar?
Tam, sebenarnya bagaimana kabarmu sekarang? Maaf, aku terlalu egois karena hanya bercerita tentangku seorang tanpa mengetahui beban yang kamu rasakan. Jadi, sini ceritakan padaku. Jika kamu belum mau, aku bersedia kok menunggu sampai kamu mau bercerita! Tapi janji yaa, kita tetap sahabatan!
No comments:
Post a Comment