Sunday, 18 April 2021

Menyederhanakan Rasa

    Pernahkah suatu hari kamu merasa kesal sekesal-kesalnya kepada temanmu atau bahkan orang tuamu tanpa sebab yang jelas? Barangkali ada masanya kita pernah merasakan hal ini. Mari kita samakan persepsi terlebih dulu. Lebih tepatnya, merasakan emosi dan sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Saat kita masih bayi, orang tua kita terkadang kebingungan menerjemahkan isak tangis kita, karena di masa-masa itu bayi berbahasa komunikasi utamanya ialah dengan tangis dan/atau tawa. Perlahan orang tua terbiasa, akhirnya mulai memahami bahasa anaknya, baik itu tangis karena lapar, mengantuk, dan sebagainya.

    Kita pun setelah memasuki usia sekolah, bahkan setelah lulus sekolah, tidak akan terlepas dari memahami emosi diri sendiri dan orang lain, yang akhirnya jika sering dilatih akan menumbuhkan rasa empati. Lantas, sebenarnya apakah ada yang namanya emosi tanpa sebab? Jika tidak ada, mengapa ada yang bisa tiba-tiba menangis tanpa mengetahui tanpa sebab, atau mudah tertawa terbahak-bahak karena hal sederhana?

    Robert Plutchik, menjelaskan bahwa klasifikasinya terhadap emosi manusia yang disebut Roda Emosi Plutchik (Plutchik's Wheel of Emotions) terdapat delapan emosi dasar yang masing-masing dapat dibagi tiga menurut intensitasnya seperti gambar berikut:



         Menurutku, dengan kita mengetahui akar dari emosi perasaan, maka akan mudah bagi kita untuk menyikapinya dan dapat terfokus untuk mengantisipasi bila sedang merasakan emosi negatif. Misalkan, dalam beberapa hari kira merasa takut tanpa sebab, setelah ditelusuri asal mulanya, ternyata sumber ketakutan kita adalah insecure atau merasa rendah diri, ketika ditarik lagi sebabnya ternyata adalah merasa malu dengan pencapaian diri yang tidak sebanding dengan teman sebaya. Dalam fasenya, lebih dikenal dengan Quarter Life Crisis. Bagaimana, sudahkah kamu temukan dan sederhanakan emosi yang kamu rasakan hari ini?

No comments:

Post a Comment