Wednesday, 17 March 2021

My Special One

Dulu, saat aku masih di bangku sekolah dasar, aku mengagumi salah satu pelatih sepak bola yang berjuluk The Special One, Jose Mourinho. Saat itu ia masih melatih klub Chelsea FC. Kalau ditanya, apa 'sih yang membuatku kagum? Mungkin karena aksinya yang nyetrik dan terkenal arogan (?) Atau juga karena ia melatih klub warna kesukaanku alias The Blues? Haha entah, aku tidak ingat persis. Kali ini bukan beliau yang akan kuceritakan, melainkan adik laki-lakiku satu-satunya.

He's my special one. Nama adikku ini Abdul Ma'ruf. Nama depannya sama seperti ayahku, sedangkan nama belakangnya terinspirasi dari pemain sepak bola Indonesia terkenal di kala itu, Anang Ma'ruf. Tak hanya itu, namanya juga terinspirasi dari bahasa Arab "Amar Ma'ruf Nahi Munkar", tak lain artinya ialah menegakkan kebenaran dan menjauhi kemunkaran. Dia tak terpaut jauh usianya jauh denganku, hanya selisih 2 tahun. Kami amat dekat, kecuali hingga 3 tahun terakhir aku harus merantau, sedari dini hingga sekarang kami tak pernah berbincang bersama...

Bukan karena tak ingin, keadaanlah yang memaksa aku harus siap dalam segala hal. Kehadiran adik kesayanganku amat dinantikan oleh keluargaku, namun kami harus siap menerima bahwa di usia 2 tahun ia menyandang autisme sehingga ia tidak bisa berkomunikasi dan perkembangannya lambat untuk ukuran anak seusianya. Penyebabnya diduga setelah imunisasi meningitis, kadar air raksanya kelebihan sehingga otaknya mengalami kerusakan. Bersyukurnya, nyawanya masih tertolong. Aku memang tak sepenuhnya mengerti, hingga dulu aku ingin jadi dokter, menjadi psikolog, agar tidak ada lagi orang merasakan hal yang sama sepertiku. Bagi masyarakat awam, kehadiran penyandang autisme terbilang sulit diterima di tengah masyarakat. Tentu saja anak autis memiliki perasaan yang sama seperti manusia pada umumnya, hanya mereka kesulitan dalam mengkomunikasikannya.

Pernah suatu ketika aku kesal dengan adikku, tak sengaja aku melukainya hingga ia berdarah. Sontak aku kaget, langsung kubersihkan darah yang mengucur seraya aku meminta maaf. Tiba-tiba, tak kusangka ia langsung memelukku sambil berkata "Maafkan aku". Entah dimana ia menirukannya. AKu langsung memeluknya balik dan berjanji takkan mengulangi kembali kejadian yang sama. Sebegitu berharganya ia bagiku, bagaimana dengan orang tuaku? Tentu mereka yang lebih merasakan bagaimana berjuangnya membesarkan anak berkebutuhan khusus. 

Rasanya, bukan dia yang membutuhkan aku, tetapi justru aku yang membutuhkan kehadiran dirinya. Dengan dirinya, aku semakin sadar betapa tingginya egoku dan bersamanya aku menjadi yakin bahwa kesabaran memang tak ada batasnya, justru kita lah yang membuat batas itu sendiri. Andaikan ia dapat berkomunikasi seperti biasa, mungkin adikku sudah pusing mendengarkan curhatan kakaknya ini, ya? Hahah. Dik, semoga kehadiranmu senantiasa menjadi penyejuk keluarga kita dan menjadi ladang amal untuk kedua orang tua kita yaa :)